Polri Apps

Mengenal Lebih Dekat Kepurun, Sajian Sagunya Lingga yang Membawa Kisah Melayu Tradisional

Kepurun makanan khas Lingga, Kepulauan Riau. (Dok; Istimewa)

Lingga, owntalk.co.id – Mengulik keunikan kuliner, Kepurun hadir sebagai sajian khas Melayu Lingga yang menyimpan sejarah lezat dari bahan utama sagu.

Kabupaten Lingga ini tak hanya dikenal sebagai penghasil sagu terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai tempat di mana Kepurun mulai merajai lidah masyarakat Melayu sejak zaman Kesultanan Riau-Lingga.

Mengenang masa keemasan Kesultanan Riau-Lingga, di mana penanaman pohon sagu di Lingga berkembang pesat, Kepurun menjadi simbol hidangan yang telah lama dikenal di kalangan setempat.

Proses produksi sagu masa Kesultanan Riau-Lingga di Daik menciptakan jejak kenangan akan kelezatan Kepurun.

Kepurun, sebuah kuliner khas di Kabupaten Lingga, tercipta dari keahlian mengolah sagu dan dihidangkan dengan kuah asam pedas yang menggugah selera.

Terlihat sebentar, Kepurun mencuri perhatian dengan kemiripannya dengan papeda, hidangan khas Indonesia bagian timur.

Santapan ini tak hanya menjadi pilihan ketika siang tiba, terutama di bawah sinar matahari panas. Kepurun juga dianggap sebagai obat penawar bagi kesehatan, menyembuhkan panas dalam, meningkatkan selera makan, dan meredakan demam.

Kepurun, yang lazimnya dinikmati bersama kuah pedas yang berbahan seperti :

  1. Cabe rawit.
  2. Terasi.
  3. Ikan bilis/teri yang digiling.
  4. Irisan belimbing.
  5. Perasan asam jawa.
  6. Garam.
  7. Dan bumbu penyedap lainnya.

Pembuatan Kepurun melibatkan proses khusus, mulai dari memasak sagu hingga menciptakan kuah lezat.

Dalam langkah pembuatan kuah, cabe rawit dan terasi dihaluskan, bilis/ikan teri dicampur hingga setengah halus, dan kemudian dicampurkan dengan air panas, perasan asam jawa, irisan belimbing.

Semua disempurnakan dengan penambahan garam dan penyedap sesuai selera, menjadikan Kepurun siap disajikan sebagai potret hidangan tradisional Melayu Lingga yang kaya akan rasa dan sejarah.

Penulis: YudEditor: Nur Anida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *