Swiss-Belinn-Promotion

Resesi Ekonomi Global 2023: UMKM Harus Naik Kelas!

Foto : Ketua DPC Gekrafs Batam, Susanna saat memaparkan persoalan ekonomi kreatif di acara FGD Kadin Batam

Ditulis oleh: Susanna (Ketua Gekrafs Batam)

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berperan sebagai penggerak, pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa. Pada dasarnya, UMKM adalah usaha atau bisnis yang dilakukan oleh individu, kelompok, badan usaha kecil, maupun rumah tangga. Keberadaan UMKM di Indonesia sangat diperhitungkan, karena berkontribusi besar pertumbuhan ekonomi. Berikut peranannya dalam perekonomian nasional:

1) Memperkukuh perekonomian nasional yang berperan sebagai fungsi pemasok, produksi, penyalur, dan pemasar bagi hasil produk-produk industri besar;
2) Meningkatkan efisiensi ekonomi, khususnya dalam menyerap sumber daya yang ada;
3) Dipandang sebagai sarana pendistribusian pendapatan nasional, alat pemerataan dalam berusaha, dan pemerataan dalam pendapatan

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan bahwa suatu negara akan mampu membangun apabila 2% dari jumlah penduduknya bergerak dalam bidang wirausaha. Dengan demikian, jika Kota Batam berpenduduk 1,1 juta jiwa, maka sedikitnya 22 ribu orang harus menjadi wirausahawan yang stabil, terjamin mutu dan berkelanjutan. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah pelaku UMKM di Kota Batam telah mencapai angka tersebut?

Sedangkan situs resmi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam sepertinya tidak update, karena data yang muncul masih data tahun 2020, dimana disebutkan bahwa jumlah Usaha Mikro di Kota Batam sebanyak 555 unit usaha . Jika (dipaksa) gunakan data ini dan memperbandingkan dengan fakta bahwa 99% kelompok usaha dalam UMKM adalah usaha mikro, maka bisa dikatakan bahwa jumlah total UMKM di Kota Batam bahkan tidak sampai 1000 unit UMKM.

Sedangkan Pusat Pengembangan (Pusbang) BP Batam pada Juli 2022, menyebutkan bahwa Batam memiliki sekitar 1.309 industri unggul baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN) . Oleh karena itu, agar aktivitas industri dapat membawa efek ganda yang luas bagi peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor, maka kita masih memiliki PR besar, yaitu masih harus mencetak banyak sekali wirausahawan kecil, selain meningkatkan UMKM yang sudah ada agar naik kelas.

Ketahanan UMKM terhadap Resesi Ekonomi
Pada krisis ekonomi Indonesia di tahun 1998 dan 2008, UMKM merupakan sektor yang memiliki daya tahan yang kuat, bahkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi saat itu. Pada krisis 1998, tercatat hanya 34 persen UMKM yang mengalami penurunan omzet dan sisanya tidak mengalami penurunan omzet. Pada krisis 2008, produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih tercatat tumbuh 5,8 persen karena konsumsi rumah tangga yang cukup kuat, bahkan Indonesia menjadi salah satu negara penyelamat ekonomi Asia .

Setidaknya ada 3 (tiga) faktor yang membuat UMKM bisa bertahan dalam kondisi ekonomi yang krisis. Pertama, umumnya UMKM menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pendapatan masyarakat yang merosot ketika krisis ekonomi terjadi tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan UMKM. Ini berbeda dengan kondisi usaha skala besar yang justru bertumbangan saat krisis terjadi. UMKM malah bisa tetap mampu bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya terbatas.

Faktor kedua yakni pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumber daya lokal, baik itu untuk sumber daya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor. Faktor ketiga, umumnya bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri. Dengan kondisi itu, ketika sektor perbankan terpuruk ataupun suku bunga melambung tinggi, UMKM tidak terpengaruh. Meskipun tingkat pertumbuhannya belum signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional, namun UMKM telah menjadi backbone dan buffer zone yang menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi yang lebih dalam .

Naik Kelas dan Kuat Mental melalui Inkubator Bisnis
Isu resesi ekonomi global 2023 terus mencuat dan sudah selayaknya sebagai upaya mengantisipasi dinamika global yang kompetitif dan perubahan sosial ekonomi, stakeholder terkait, dalam hal ini pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi, dan pengusaha, bahu membahu menggalakkan kegiatan-kegiatan yang berdimensi kewirausahaan, untuk mendorong pertumbuhan dan ketahanan UMKM, khususnya di Kota Batam.

Berbicara UMKM, maka kelompok usaha paling dominan di antaranya adalah Usaha Mikro. Oleh karena itu, sangat penting bagi seluruh stakeholder bekerjasama agar bagaimana caranya usaha mikro ini dapat naik kelas atau scale-up. Lalu apa langkah utama yang harus dilakukan? Yaitu memenuhi kebutuhan knowledge berwirausaha yang belum mereka miliki.

Program khusus kewirausahaan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat sebuah entrepreneur center yang menjadi inkubator bisnis. Program ini ditujukan untuk membantu perkembangan perusahaan rintisan yang baru memasuki dunia bisnis, pelaku usaha mikro yang ingin scale-up atau pelaku UMKM yang membutuhkan pendampingan dalam meningkatkan daya tahan bisnisnya.

Inkubator berperan menyediakan ruang bagi perusahaan rintisan atau UMKM, antara lain membantu membuat portofolio untuk produk-produk jangka panjang, mengembangkan produk-produk yang telah dimiliki agar semakin memiliki nilai tambah, memacu dan menghadirkan ide-ide inovasi yang berpotensi signifikan di area bisnis yang digeluti, memberi akses kepada para mentor yang merupakan ahli di bidangnya, advokasi, dan menjadi parent company untuk membantu mentransformasi UMKM agar lebih siap untuk bersaing.

Program inkubator terdiri dari pelatihan, pendampingan, mentoring, bahkan hingga tahap pendanaan. Selain itu, melalui inkubator, UMKM dapat mempelajari pengembangan strategi pemasaran serta pengetahuan lain yang dibutuhkan untuk pengembangan perusahaan. Program inkubator memiliki jangka waktu yang lebih lama, dikarenakan program tersebut tidak hanya menerima tim atau usaha yang telah memiliki produk, tapi juga menerima ide mentah sehingga juga memerlukan proses validasi ide, produk, dan juga pasar. Untuk mensukseskan program ini, maka dibutuhkan kolaborasi dan kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi, lembaga keuangan maupun dengan pelaku usaha besar.
Peserta program incubator juga diharapkan bukan hanya menjadi “jamaah workshop” yang hanya fokus menggali ilmu wirausaha tanpa praktek, melainkan memanfaatkan program inkubator sebagai langkah praktek berwirausaha sambil belajar. Oleh karena itu, dibutuhkan mental wirausaha yang kuat sebelum memutuskan untuk benar-benar terjun ke dunia wirausaha.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *