Mengendus Jejak Kartel Minyak Goreng

Date:

Related stories

PT Timah Tbk Serahkan Bantuan Peralatan Gerabah untuk Dusun I Parit Gantung

Kundur, Owntalk.co.id -- Untuk mendukung kegiatan masyarakat di Dusun...

Musda ke-2, KNPI Bintan Buka Calon Pendaftaran Ketua

Bintan, Owntalk.co.id - Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda...

Ketua PWI Kepri Apresiasi Lomba Orasi Owntalk

Batam, Owntalk.co.id - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi...

Pelaksanaan Car Free Day perdana di Karimun berlangsung sangat Meriah

Karimun, Owntalk.co.id - Bupati karimun Dr H Aunur Rafiq...

PT Timah Tbk Dukung Organisasi Mahasiswa Gelar Jalan Santai Kemerdekaan

Karimun, Owntalk.co.id -- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Karimun...

Jakarta, Owntalk.co.id – Kenaikan harga minyak goreng yang terjadi sejak awal Desember tahun 2021, tingginya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari Rp1.098/kg menjadi Rp3.000/kg yang dipicu oleh kenaikan minyak sawit mentah dunia yang kemudian berimbas pada kenaikan minyak goreng di pasaran.

Kenaikan harga mencapai Rp800 hingga Rp1.000 per liternya atau lebih tepatnya mencapai Rp22 ribu per liter dan dua liter mencapai Rp35 ribu. Sedangkan minyak goreng curah mencapai Rp18 ribu per liter dan minyak goreng kemasan Rp20 ribu.

Meski pemerintah telah memberlakukan program minyak goreng satu harga sejak 1 Februari dengan harga eceran tertinggi (HET) mencapai Rp14 ribu/liter namun keberadaan minyak goreng tersebut masih langka. Hal ini disebabkan terjadinya panic buying di kalangan masyarakat serta kelangkaan produk minyak goreng itu sendiri.

Di sisi lain Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melihat adanya sinyal kartel dari kenaikan harga minyak goreng belakangan. Pasalnya, perusahaan-perusahaan besar di industri minyak goreng dinilai kompak untuk menaikan harga secara bersama. Hal ini dimaknai sebagai sinyal apakah terjadi kartel karena harga, namun secara hukum dugaan ini harus dibuktikan.

Kartel sendiri merujuk pada sekelompok produsen yang mendominasi pasar yang bekerja sama satu sama lain untuk meningkatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan menaikan harga, sehingga pada akhirnya konsumen yang dirugikan. Dugaan kartel ini berkaitan dengan terintegrasinya Produsen Crude Palm Oil (CPO) yang juga memiliki pabrik minyak goreng.

Komisioner KKPU, Ukay mengungkapkan bahwa pasar industri minyak goreng di Indonesia cenderung mengarah ke struktur oligopoli. Tercatat ada 4 industri besar yang mengusai lebih dari 40% pangsa pasar minyak goreng di Indonesia. Beberapa pemain besar industri minyak goreng yang juga memiliki perkebunan kelapa sawit diantaranya Wilmar Grup, Grup Salim, Grup Sinarmas, Musim Mas, hingga Royal Golden Eaagle Internasional.

Melambungnya harga minyak goreng merupakan sebuah ironi ketika Indonesia sebagai negara penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar dunia, namun masyarakatnya harus tercekik karena naiknya harga minyak goreng.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories