Warisan Budaya Lamaholot Hadir di Tanah Melayu, Merawat Identitas Perantau Flores Timur
Kundur, Owntalk.co.id – Sebuah momen bersejarah akan tercipta di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Untuk pertama kalinya sejak masyarakat Adonara bermukim di Tanjung Batu pada era 1950-an, Tarian Sole Oha, tarian adat masyarakat Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, akan dipertunjukkan di tanah Melayu.
Pementasan yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli 2026 itu menjadi bagian dari rangkaian syukuran pernikahan Juven, putra asal Maumere, dengan Liphing, yang merupakan keturunan keluarga besar Adonara di Pulau Kundur.
Bagi masyarakat Adonara yang telah puluhan tahun merantau, momen tersebut bukan sekadar hiburan dalam sebuah pesta pernikahan. Lebih dari itu, pementasan Sole Oha menjadi simbol kerinduan terhadap kampung halaman sekaligus bentuk pelestarian budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Tradisi yang telah hidup selama berabad-abad di Pulau Adonara itu akhirnya akan bergema di Pulau Kundur, menghadirkan nuansa budaya Lamaholot di tengah masyarakat Melayu. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa jarak tidak pernah memutus ikatan seseorang dengan akar budayanya.
Pementasan Sole Oha kali ini dipersiapkan secara istimewa. Ama Kelake Adopehan, tokoh adat asal Lamahelan, Adonara, yang merupakan keturunan penjaga Gunung Boleng, didatangkan langsung dari Pulau Adonara untuk memimpin jalannya tarian sesuai pakem adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Sementara itu, syair-syair adat yang menjadi jiwa dari Tarian Sole Oha akan dilantunkan bersama para penyair dari berbagai daerah. Selain Ama Kelake Adopehan, turut hadir Ama Bali Dalo, SH, Ama Ata, dan Ama Kornelis Kopong Duli (Badil) dari Kota Batam. Mereka akan bergabung dengan para penyair dari Tanjung Batu, Tanjung Balai Karimun, Pulau Moro, serta sejumlah pulau kecil di sekitar Pulau Kundur.
Kehadiran para tetua adat dan penyair dari berbagai daerah tersebut menunjukkan kuatnya rasa persaudaraan masyarakat Flores Timur di tanah perantauan. Mereka datang bukan hanya untuk menghadiri pesta pernikahan, tetapi juga untuk menjaga agar warisan budaya leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
Warisan Budaya Lamaholot
Sole Oha merupakan salah satu tarian adat masyarakat Adonara, Flores Timur, yang berasal dari kebudayaan Lamaholot. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan mengandung filosofi yang mendalam tentang persatuan, penghormatan, rasa syukur, dan sukacita.
Gerakan para penari yang dilakukan secara serempak melambangkan semangat gotong royong, saling menopang, serta menjaga persaudaraan. Dalam budaya Adonara dikenal nilai ina-ama, kaka-ari, opu-binek, yang mencerminkan eratnya hubungan kekeluargaan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sole Oha lazim ditampilkan pada pesta adat, syukuran, penyambutan tamu kehormatan, dan pernikahan. Tarian ini menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan serta penghormatan kepada para leluhur atas berkat kehidupan yang diterima.
Dalam tradisi Adonara, tamu yang datang dengan niat baik dipandang sebagai pembawa berkat. Karena itu, pementasan Sole Oha juga menjadi simbol penghormatan, penerimaan, dan persaudaraan kepada setiap tamu yang hadir.
Gerakan kaki yang kompak mengikuti irama gong dan gendang melambangkan keselarasan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Sementara busana adat, tenun khas, syair, serta iringan musik menjadi identitas budaya Lamaholot yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Makna Sole Oha dalam Pernikahan
Dalam prosesi pernikahan, Sole Oha memiliki makna yang sangat mendalam. Tarian ini menjadi simbol bersatunya dua keluarga besar dalam ikatan persaudaraan. Syair-syair yang dilantunkan berisi doa agar kedua mempelai hidup rukun, saling menghormati, memperoleh kebahagiaan, dan senantiasa dilimpahi berkat.
Sole Oha juga mengajak seluruh keluarga dan tamu untuk ikut bersukacita, karena dalam budaya Lamaholot, sebuah pernikahan bukan hanya milik kedua mempelai, melainkan menjadi kebahagiaan seluruh komunitas.
Kekayaan Nusantara Hadir di Tanah Melayu
Pementasan perdana Tarian Sole Oha di Pulau Kundur menjadi lebih dari sekadar sebuah pertunjukan budaya. Kehadirannya menjadi simbol bahwa masyarakat perantau asal Flores Timur tetap menjaga identitas leluhurnya di mana pun mereka berada.
Di tengah keberagaman budaya Indonesia, masyarakat Adonara menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar kenangan, melainkan warisan yang terus dihidupkan. Melalui Sole Oha, mereka memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat Kepulauan Riau, sekaligus mempererat persaudaraan antara budaya Lamaholot dan budaya Melayu.
Ini menjadi gambaran nyata bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang saling menghormati. Dari Pulau Adonara hingga Pulau Kundur, Sole Oha hadir bukan hanya sebagai tarian adat, tetapi juga sebagai pesan tentang persatuan, kebersamaan, dan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

