BATAM, Owntalk.co.id – Polemik dugaan penolakan pasien anak di Klinik Kimia Farma Sungai Harapan, Sekupang, Kota Batam, memasuki babak baru. Di tengah klaim sepihak yang menyebutkan persoalan tersebut telah selesai, pihak keluarga melalui kuasa hukumnya secara tegas membantah narasi tersebut.
Keluarga korban justru dilaporkan mengalami tekanan psikologis berat dan semakin menutup diri akibat rentetan intimidasi.
Kuasa hukum keluarga pasien, Deo Bernas Situmeang, S.H., dan Martin Situmeang, S.E., S.H., dari Kantor Hukum Deo Situmeang & Partners, mengungkapkan bahwa kliennya kini didera trauma mendalam pasca-peristiwa yang viral di media sosial tersebut.
Menurut Deo, alih-alih selesai, keluarga pasien justru menerima berbagai pesan bernada ancaman melalui Direct Message (DM) media sosial setelah pihak Kimia Farma mengeluarkan pernyataan sepihak ke media.
“Ada beberapa pesan yang masuk melalui DM yang isinya meminta keluarga bersiap-siap menghadapi persoalan hukum. Mereka diminta menyiapkan banyak uang dan waktu. Hal ini yang membuat klien kami semakin takut, tertekan, dan trauma,” ujar Deo saat ditemui di kawasan Batam Centre, Senin (1/6/2026).
Pihaknya menduga pesan-pesan tersebut dikirim oleh akun-akun fiktif yang tidak terverifikasi.
Kronologi Riwayat Medis dan Alasan Perekaman Video
Tim kuasa hukum juga meluruskan tuduhan netizen yang menyebut orang tua pasien langsung marah-marah dan merekam petugas sesaat setelah tiba di klinik. Deo menegaskan, peristiwa yang terjadi pada Jumat (23/5/2026) sekitar pukul 20.45 WIB itu berjalan sebaliknya.
Anak pasien berinisial ES (3) awalnya dalam kondisi sehat pada sore hari. Namun, sepulang orang tuanya mengikuti kebaktian kompleks sekitar pukul 20.30 WIB, ES mendadak mengalami demam tinggi dan muntah-muntah.
”Keluarga panik karena anak ini memiliki riwayat penyakit step (kejang demam). Siapa pun orang tua pasti ketakutan jika anak dengan riwayat step terlambat ditangani,” jelas Martin Situmeang.
Setibanya di Klinik Kimia Farma Sekupang yang merupakan faskes tingkat pertama, orang tua mengaku bersyukur karena klinik masih buka. Namun, respons dokter jaga justru mengejutkan. Dokter tersebut mempertanyakan kedatangan mereka dengan ketus.
“Kenapa malam-malam datang?, Kenapa sakit?,” salah satu kuasa hukum memperagakan bahasa dokter.
Dokter jaga menolak memeriksa ES dengan alasan sistem komputer sudah dimatikan dan klinik akan segera tutup. Bahkan, ketika ayah pasien memohon selama belasan menit agar diberikan obat penanganan awal saja demi mencegah kejang, pihak klinik tetap menolak.
“Jadi, video berdurasi 59 detik yang direkam pukul 20.57 WIB itu dibuat secara spontan setelah adanya penolakan berulang kali. Bukan begitu datang langsung merekam. Tidak mungkin seorang ayah yang anaknya sedang bertaruh nyawa karena riwayat step memikirkan konten atau langsung marah-marah tanpa sebab,” tegas Deo.
Setelah ditolak di Kimia Farma, malam itu juga keluarga terpaksa melarikan ES ke klinik lain untuk mendapatkan pertolongan medis.
Desak Kimia Farma Buka Rekaman CCTV
Menyikapi klaim sepihak dan investigasi internal yang dinilai menggantung, Deo Bernas Situmeang mendesak manajemen PT Kimia Farma untuk melakukan klarifikasi secara terbuka dan transparan kepada publik.
“Kami berharap Kimia Farma menyampaikan klarifikasi yang jujur berdasarkan fakta. Kami menuntut mereka membuka rekaman CCTV yang ada di lokasi kejadian. CCTV adalah alat bukti paling objektif untuk memperlihatkan secara utuh bagaimana kronologi kedatangan klien kami, bagaimana sikap dokter jaga, hingga akhirnya video tersebut direkam,” ungkap Deo.
Keluarga berharap evaluasi total dilakukan terhadap pelayanan medis, serta menegaskan tidak boleh ada perbedaan penanganan antara pasien umum dan pengguna BPJS Kesehatan.
