Polri Apps
banner 728x90

Dari Sungai Terkotor ke Ikon Revitalisasi: Kisah Transformasi Sungai Citarum

Program bersih Citarum yang digagas pemerintah menghapus citra Citarum yang sempat menyandang predikat sebagai sungai terkotor di dunia. (Dok; ANTARA FOTO)

Jakarta, Owntalk.co.id – Sungai Citarum, yang pernah viral sebagai sungai terkotor di dunia, kini menjadi contoh keberhasilan program konservasi sungai melalui Program Citarum Harum.

Program ini memperlihatkan bagaimana kolaborasi yang kuat dapat mengubah wajah sungai sepanjang 297 kilometer ini, yang terbentang dari Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, hingga bermuara di Pantai Utara Pulau Jawa, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.

Sungai Citarum memiliki peran vital dalam kehidupan manusia, dengan potensi sumber daya air mencapai sekitar 13 miliar m³ per tahun. Sungai ini melintasi 13 wilayah kabupaten/kota di Jawa Barat, mencakup 22 persen dari luas provinsi tersebut.

Selain sebagai sumber air baku untuk minum dan irigasi bagi ratusan ribu hektare sawah, sungai ini juga mendukung tiga waduk utama yaitu Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, yang masing-masing berfungsi sebagai pembangkit listrik.

Namun, Sungai Citarum tidak hanya memberikan manfaat. Sungai ini juga menanggung beban besar dari sekitar 1.900 industri di sekitarnya, di mana 90 persen dari industri tersebut memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tidak memadai. Ditambah dengan suplai harian 20.462 ton sampah rumah tangga, 71 persen di antaranya tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir.

Berbagai masalah lingkungan membuat Citarum dijuluki sebagai sungai terkotor di dunia. Menyadari kondisi kritis ini, Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Citarum Harum pada 2018, dengan tujuan memperbaiki kualitas air dan mengembalikan fungsi ekologis sungai. Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk kementerian, lembaga pemerintah, akademisi, bisnis, masyarakat, dan media, dalam upaya kolaboratif yang terpadu.

Upaya pengelolaan sampah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citarum juga dioptimalkan, termasuk penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pencemaran lingkungan. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat juga menjadi fokus, memastikan partisipasi aktif warga dalam menjaga kebersihan sungai.

Program revitalisasi Sungai Citarum memiliki makna yang lebih luas, yaitu menjaga kebersihan sungai untuk memastikan air yang mengalir ke laut juga bersih. Ini sejalan dengan prinsip bahwa menjaga sungai berarti menjaga laut, dan menjaga laut berarti menjaga Indonesia.

Program ini dijadikan contoh keberhasilan pengelolaan sumber daya air yang akan dipamerkan Pemerintah Indonesia dalam World Water Forum ke-10 di Nusa Dua, Bali, pada 18-25 Mei 2024.

Direktur Sanitasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian PUPR, Tanozisochi Lase, menekankan pentingnya pengelolaan limbah sampah yang seharusnya tidak dibuang ke sungai. Kementerian PUPR telah menginisiasi berbagai kegiatan, seperti pengelolaan air limbah domestik dan pembangunan tempat pengelolaan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R).

Kementerian PUPR juga bekerja sama dengan Kemenko Maritim dan Investasi untuk mengembangkan pengelolaan air limbah domestik di wilayah Citarum. Langkah-langkah ini termasuk perbaikan/normalisasi badan sungai, peningkatan kapasitas sungai dengan pembangunan terowongan, permukiman baru bagi warga yang direlokasi, dan fasilitas pengolahan air limbah dan sampah permukaan.

Sejumlah infrastruktur telah dibangun, seperti normalisasi kali mati (oxbow) di lima lokasi sejak 2019, serta pembangunan Kolam Retensi Cieuntung di Kecamatan Baleendah yang berfungsi sebagai pengendali banjir.

Kolam retensi dan polder-polder di Kabupaten Bandung juga telah selesai dibangun, sebagai bagian dari upaya mengurangi debit banjir yang sering menggenangi daerah tersebut.

Program Citarum Harum menunjukkan bahwa dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, sungai yang pernah tercemar parah pun dapat direvitalisasi dan dijadikan teladan pengelolaan sumber daya air.

Upaya ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi ekosistem lokal tetapi juga berkontribusi pada upaya global dalam menjaga lingkungan. Melalui inisiatif ini, Sungai Citarum telah berubah dari sungai terkotor menjadi ikon revitalisasi yang menginspirasi banyak pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *