Karimun, Owntalk.co.id – Pengurus Besar (PB) Badminton Lovers Comunity (BLC) Febry Ari Anto kecewa terhadap surat keputusan pemberian sanksi yang dikeluarkan oleh Ketua Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Karimun terhadap Atlit Rowen dan PB BLC. Sangat disayangkan atlit muda dan berbakat itu diberi sanksi dua tahun tidak mengikuti turnamen oleh PBSI.
Pengurus PB BLC Febry Ari Anto, mengatakan surat sanksi itu keluar dari PBSI berawal saat kemarin ada turnamen beregu yang penyelenggaranya Tunas Muda, tetapi panitia tidak melibatkan PBSI. Dalam penyelenggarannya tidak mengikuti peraturan dan wasitnya PBSI.
”Dari turnamen tersebut ada anak bernama Rowen yang status masih di klub JBE. Tetapi karena dia sering berlatih bersama Klub BLC, sewaktu bertanding beregu dia memutuskan untuk membawa nama BLC sedangkan Klub lama dia tidak mengirimkan team untuk mengikuti pertandingan tersebut,” kata Ari Anto, Jumat, 20/10/2023.
Febry melanjutkan, setelah pertandingan tersebut diadakanlah rapat PBSI, dari hasil rapat tersebut keluar sanksi ini yang ditunjukan untuk Klub BLC dan Rowen, disitu sangat jelas PBSI menjatuhkan sanksi selama dua tahun tidak mengikuti turnamen yang diselenggarakan oleh PBSI.
“Kalau kita lihat, dasar mereka (PBSI Karimun) memberikan sanksi dari turnamen kemarin (tidak tepat), sedangkan turnamen tersebut tidak menggunakan aturan dari PBSI dan sudah sangat jelas pihak panita mengunakan aturan non PBSI,” ujarnya.
Febry menjelaskan, terkait sanksi yang dikeluarkan PBSI, PB BLC akan mengajukan banding ke tingkat Provinsi. Sebab mereka kasian sama Rowen yang memiliki bakat yang sangat tinggi, baik untuk mengikuti kejuaraan tingkat nasional, provinsi, maupun daerah.
“Kita sangat menyanyangkan surat sanksi yang dikeluarkan oleh PBSI, apakah mereka tidak memikirkan anak itu tidak bisa bermain sampai 2 tahun. ‘Kan sangat disayangkan, karena dia atlet terbaik dan menjadi tulang punggung Karimun. Sekarang tidak bisa bertanding,” ucapnya menyayangkan.
Sementara, katanya, Rowen telah mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap keputusan sanksi yang di berikan oleh PBSI terhadap anak itu. Sebab sanksi itu dinilai terlalu tinggi atau terlalu lama tidak bermain.
“Saya minta kepada Ketua PBSI agar dapat dikurangi sanksinya atau pun dibatalkan, karena masalah ini dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” bilangnya.
Pengurus PB BLC Karimun itu menilai Keputusan PBSI tentang sanksi yang diberikan kepada Rowen rancu. Seharusnya, Ari Anto menyarankan, PBSI bisa memanggil semua pihak untu duduk bersama. ”Bisa dipanggil duduk bersama, dan diselesaikan secara kekeluargaan. Kasihan si anak itu (Rowen) dia punya bakat soalnya,” pungkas Ari Anto. (koko)

