Batara Silaban, Direktur Produksi PTDI, mengungkapkan bahwa pesawat N219A ini mampu dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah maritim. Menurutnya, potensi market terbesar berada di bidang pariwisata. Pesawat ini tentunya juga mampu mengakomodir pulau-pulau terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) yang tersebar di Indonesia.
Berbagai wilayah di Indonesia pun cukup berpotensi untuk menggunakan pesawat ini, seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo. Potensi pasar yang besar juga terlihat khususnya di Asia Pasifik. Kini, ada 150 unit pesawat aktif dan 45% dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging.
“Jika sesuai dengan linimasa yang ada, pesawat ini diperkirakan dapat melaksanakan penerbangan pertamanya di tahun 2023,” ungkap Batara.
Pesawat ini memiliki kecepatan hingga 296 km per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki. Dengan beban 1560 kg, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 km. Take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air, ia membutuhkan jarak hingga 1.400 meter. Kemudian untuk landing dari ketinggian 50 kaki, ia membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut.
“Maximum take-off weight pesawat ini mencapai 7.030 kg dengan maximum landing weight 6.940 kg, dengan total kapasitas bahan bakar 1.600 kg,” kata Batara.
Dalam menyempurnakan pesawat ini, berbagai kementerian/lembaga turut andil dengan berkolaborasi. Kementerian Perhubungan, LAPAN, BPPT, dan PTDI bahu-membahu memaksimalkan pengembangan pesawat ini.
Halaman selanjutnya…
