Sementara saat ditanyakan tugas Aloi selaku anggota panitia pengelola dana kompensasi KIP dari WIUP swasta yang menyalurkan dana kompensasi untuk nelayan setempat, Eta justru mempertanyakan fungsi Aloi yang menurut pengakuannya bukanlah seorang nelayan.
“Fungsi Aloi apa? Itu yang jadi tanda tanya,” tegas Eta.
Ia juga meminta aparat penegak hukum agar turun langsung mengaudit penggunaan dana kompensasi untuk nelayan setempat yang selama ini dikelola oleh pihak panitia bersangkutan.
“Sudah pasti itu. Kami meminta aparat hukum turun untuk mengaudit,” lanjut dia.
Aloi sendiri ketika dihubungi melalui pesan singkat pada Kamis (11/11/2021) sore mengatakan dana kompensasi untuk nelayan Matras sudah disalurkan oleh pihaknya dengan baik.
“Untuk kompensasi nelayan Matras sudah cukup baik tersalurkan, pak. Data-data penerima ada, dan lengkap, pak. Untuk masyarakat boleh tanyakan langsung ke pak ketuanya karena kita urus masalah kompensasi nelayannya,” sergah Aloi.
Mengenai protes dari nelayan Matras yang merasa belum mendapatkan kompensasi, ia pun akan segera menanggapinya.
“Kita respon dengan baik, pak. Kalau emang benar nelayan, datang saja ke pengurus nelayan. Pasti kita beri untuk kompensasi. karena selama ini kita selalu infokan bagi nelayan bisa ambil kompensasi. Karena itu hak nelayan,” ungkap warga Lingkungan Hakok, Kelurahan Matras itu.
Ditambahkan oleh Aloi, untuk Lingkungan Matras terdapat koordinator wilayah yang bertugas mengurusi nelayan setempat.
“Korwilnya pak Junai dan Armin. Mereka lebih paham dan jelas mana nelayan dan bukan nelayan,” tutup Aloi.

