OVO Siapkan Permodalan Untuk Pelaku UMKM

  • Whatsapp

Jakarta, Owntalk.co.id – Di tengah pandemi, OVO berani membuka akses permodalan kepada UMKM di Indonesia. Berdasarkan data yang dimilikinya, lebih dari 70 persen pelaku UMKM tidak bisa mengakses pinjaman modal. Di sisi lain, 77 persen orang Indonesia masih ‘tidak memiliki rekening bank (unbanked)’ atau ‘belum secara maksimal melakukan transaksi keuangan (underbanked)’.

Menjadi tantangan adalah masyarakat di Indonesia juga belum sepenuhnya percaya untuk meminjam uang dari layanan keuangan digital, tidak terkecuali para pelaku UMKM. Hal itu diungkapkan oleh Natasha Ardiani, VP Lending OVO.

Read More

“Sebetulnya misi kami adalah membuat suatu layanan keuangan pinjam-meminjam yang transparan, mudah diakses, dan juga terjangkau untuk seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini penting agar peran dan tanggung jawab pemberi pinjaman dan peminjam jelas dan sesuai aturan yang berlaku. ‘Daripada kita pinjam ke keluarga’, tetangga atau rentenir, terms & conditions-nya sering kali tidak jelas. Sementara apabila pinjam ke bank harus buka tabungan dan punya histori transaksi perbankan dahulu,” kata Natasha dalam siaran persnya, Selasa (27/10).

Ia menambahkan, untuk bunga yang diberikan kepada UMKM mulai dari 1.3 persen per bulan (Biaya terhitung berdasarkan suku bunga pinjaman dan setiap orang mungkin berbeda, tergantung pada hasil penilaian individu peminjam). Selain itu, nilai pinjaman sampai dengan Rp 2 Miliar per peminjam; dan Pembiayaan penuh dalam waktu 48-72 jam.

Bisnis Lending Dibutuhkan UMKM
Dilanjutkannya, kehadiran bisnis lending saat ini sangat dibutuhkan oleh mereka karena para pelaku UMKM banyak yang terkena dampak dari pandemi Covid-19. Banyak di antara mereka yang mengalami kekurangan modal usaha, kesulitan menggaji karyawan, hingga ancaman penutupan usaha.

“Sejak awal pandemi ini, kita fokus ke B2B (Business to Business) atau business lending. Oleh karenanya, kami sedang menggenjot pinjaman UMKM bekerjasama dengan Taralite dalam bentuk modal kerja dan anjak piutang untuk membantu kas keuangan mereka tetap bisa terus berjalan. Itu salah satu layanan pinjam meminjam yang bisa kami berikan untuk para UMKM agar mereka bisa segera bangkit kembali,” terang dia.

Selain itu, salah satu cara lain yang dilakukan oleh OVO untuk meningkatkan inklusi keuangan digital adalah dengan banyak menjalin kerjasama dalam program-program pemerintah, seperti saat OVO menjadi mitra pemerintah dalam menyalurkan insentif Kartu Prakerja yang pada saat ini sudah berhasil menjangkau lebih dari 1,3 juta penerima manfaat.

Selain meningkatkan inklusi keuangan, dengan cara tersebut OVO juga bisa melakukan edukasi pada masyarakat tentang keuangan digital. Sebab OVO menyadari bila diperlukan adanya kerja sama antara pemerintah dan pelaku industri keuangan guna menciptakan dan menggerakkan masyarakat non-tunai atau cashless society.

Berita ini telah terbit di Merdeka.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *