Opini  

Setelah Mubes, Saatnya Kembali Duduk Sebagai Saudara

Foto : Simon Payung Masan.

Catatan Lepas Mubes PKNTT Batam 2026

Oleh: Simon Payung Masan

Sabtu, 12 September 2026, menjadi salah satu hari yang patut dicatat dalam perjalanan organisasi PKNTT Batam. Pada hari itu dilaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) untuk memilih Ketua Umum PKNTT Batam periode 2026–2031.

Mubes kali ini menyimpan sebuah cerita yang cukup unik.

Dari 22 paguyuban yang tergabung dalam PKNTT Batam, proses pemilihan Ketua Umum diikuti oleh tiga kandidat, yaitu satu kandidat dari Kabupaten Ende dan dua kandidat dari HIMKA/Alor.

Namun, menjelang proses pemilihan berlangsung, terjadi sesuatu yang sama sekali tidak diduga. Kandidat dari Kabupaten Ende tiba-tiba jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Dalam situasi tersebut, forum Mubes memutuskan bahwa proses pemilihan tetap dilanjutkan. Ketiga kandidat tetap tercatat sebagai peserta pemilihan, termasuk kandidat dari Kabupaten Ende yang saat itu sedang mendapatkan perawatan medis.

Dengan demikian, proses pemilihan tetap berjalan sesuai keputusan forum. Dalam pelaksanaannya, dua kandidat yang hadir mengikuti proses pemilihan, sementara kandidat dari Kabupaten Ende tetap berada dalam daftar kandidat.

Dari perbincangan ringan saya dengan salah seorang tokoh muda Alor, saya kemudian mengenal kembali sebuah warisan tutur leluhur Alor yang disebut Gologapu.

Gologapu dikenal sebagai warisan tutur leluhur Alor yang termuat dalam Ikrar Raja Alor kepada Gubernur Verbonmur pada tahun 1905, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam nilai yang terkandung di dalamnya, seorang pemimpin diingatkan bahwa ketika menjadi pemimpin, ia harus mampu merangkul, memaafkan, mencintai, mengampuni, dan memberi makan kepada mereka yang dipimpinnya.

Bagi saya, pesan tersebut bukan sekadar ungkapan masa lalu. Ia mengandung nilai kepemimpinan yang sangat relevan hingga hari ini: bahwa menjadi pemimpin bukan semata-mata tentang memperoleh kedudukan atau memenangkan sebuah kompetisi, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu merangkul sesama, menjaga persaudaraan, serta menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi.

Karena itu, sebagai salah seorang yang dituakan dalam keluarga besar NTT Batam, saya ingin menitipkan sebuah harapan.

Mubes telah selesai. Mekanisme organisasi telah dijalankan dan hasilnya tentu harus kita hormati.

Namun, alangkah indahnya apabila kedua saudara kita yang telah berkompetisi ini dapat kembali duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati dalam semangat Gologapu.

Duduk bukan lagi sebagai pihak yang menang dan pihak yang kalah. Duduklah sebagai dua saudara, dua putra Alor, dan dua tokoh yang sama-sama mempunyai tanggung jawab terhadap Rumah Besar PKNTT Batam.

Biarkan dalam pembicaraan itu keduanya, dengan hati yang jernih, melihat kembali apa yang terbaik bagi organisasi.

Bila dari percakapan hati ke hati tersebut kemudian lahir suatu kesepakatan yang lebih luhur—bahkan sampai pada kesediaan untuk saling memberi ruang, mengalihkan kepercayaan kepemimpinan, ataupun berbagi tanggung jawab demi kepentingan yang lebih besar—biarlah keputusan itu lahir dari kebesaran hati mereka sendiri, tanpa tekanan dari siapa pun dan tentu tetap dalam koridor organisasi.

Saya tidak sedang menentukan siapa yang harus menjadi Ketua Umum. Saya juga tidak bermaksud mengurangi arti kemenangan ataupun hasil Mubes yang telah berlangsung.

Saya hanya membayangkan sesuatu yang mungkin jauh lebih besar.

Bagaimana kalau sejarah Mubes PKNTT Batam 2026 kelak bukan hanya dikenang karena siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi karena lahirnya sebuah teladan tentang persaudaraan?

Sebuah teladan bahwa setelah kompetisi selesai, dua orang yang sebelumnya berhadapan dapat kembali duduk sebagai saudara dan menempatkan kepentingan Rumah Besar di atas kepentingan pribadi.

Sebab, pada akhirnya, organisasi bukan hanya membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menang dalam sebuah pemilihan. Organisasi juga membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul mereka yang berbeda pilihan, memaafkan perbedaan, menjaga kasih persaudaraan, dan mengayomi seluruh anggota yang dipimpinnya.

Kalau itu dapat terjadi, maka bagi saya, itulah salah satu makna kemenangan yang sesungguhnya.

Menang tanpa merendahkan.
Mengalah tanpa kehilangan kehormatan.
Berbeda pilihan tanpa kehilangan persaudaraan.
Dan akhirnya kembali bergandengan tangan membesarkan Rumah Besar PKNTT Batam.

Sejarah telah tercatat.
Keunikan telah terjadi.

Semoga dari Mubes PKNTT Batam 2026 juga lahir sebuah cerita indah yang kelak layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebuah cerita bahwa persaingan dalam memilih pemimpin tidak harus berakhir dengan perpecahan. Bahwa perbedaan pilihan tidak harus menghilangkan persaudaraan. Dan bahwa kebesaran hati untuk kembali duduk bersama dapat menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemenangan.

Jayalah PKNTT Batam.
Tetap satu dalam persaudaraan.

Exit mobile version