Oleh: Simon Payung Masan
Tokoh Masyarakat NTT Kota Batam
Sebenarnya saya tidak ingin ikut berkomentar mengenai persoalan yang sedang dihadapi Bapak Basri. Beberapa hari lalu, tulisan Ama Jay menurut saya sudah cukup mewakili sekaligus memberikan gambaran tentang sosok beliau, perjalanan hidupnya, serta kepribadiannya.
Namun hari ini hati saya terusik.
Begitu cepat media sosial bekerja. Nama, foto, berita, komentar, hingga berbagai pendapat tentang Bapak Basri beredar ke mana-mana. Orang dengan mudah memberikan penilaian, bahkan tidak jarang menjatuhkan vonis, sementara kita sendiri belum tentu mengetahui secara utuh apa yang sebenarnya terjadi.
Sebagai orang yang mengenal Basri sejak awal kehidupannya di Batam, saya merasa terpukul melihat kenyataan yang sedang beliau hadapi hari ini.
Saya mengenal Basri bukan ketika beliau sudah dikenal dan memiliki kehidupan ekonomi seperti sekarang. Saya mengenalnya sejak beliau baru tiba di Batam, ketika kehidupan masih jauh dari mudah dan perjuangan untuk bertahan di tanah rantau bukanlah perkara sederhana.
Saya melihat bagaimana beliau membangun kehidupannya dari nol. Perjalanan itu tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada kerasnya kehidupan, ada persoalan, ada risiko, dan bahkan beberapa kali saya ikut mengawal serta membantu penyelesaian persoalan hukum yang beliau hadapi di Batam.
Orang-orang NTT yang telah lama tinggal di Batam tentu mengetahui sebagian perjalanan tersebut.
Karena itu, ketika hari ini nama Basri ramai diperbincangkan, pikiran saya tidak hanya berhenti pada satu pertanyaan: “Apa kesalahan Basri?”
Saya justru bertanya lebih jauh: “Apa sebenarnya yang terjadi dalam keseluruhan persoalan ini?”
Jika pada akhirnya proses hukum membuktikan bahwa Basri melakukan kesalahan, tentu setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Kedekatan, persahabatan, kesamaan daerah, maupun rasa persaudaraan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan sesuatu yang salah.
Hukum tetap harus dihormati.
Namun pada saat yang sama, proses hukum juga harus memberikan ruang seluas-luasnya untuk menemukan kebenaran secara utuh: siapa melakukan apa, siapa mengetahui apa, siapa memperoleh keuntungan, siapa yang mengendalikan kegiatan tersebut, serta apakah terdapat pihak lain yang memiliki peran lebih besar.
Di sinilah kegelisahan saya muncul.
Saya bertanya dalam hati: apakah Basri sepenuhnya merupakan pelaku, atau dalam bagian tertentu ia juga menjadi korban dari kerasnya kehidupan dan dunia usaha yang dijalaninya?
Saya bahkan bertanya, jangan-jangan nama besar dan keberadaan beliau digunakan oleh pihak tertentu sebagai tameng atau pintu masuk bagi suatu kegiatan yang kemudian bermasalah secara hukum.
Saya tidak mengetahui jawabannya.
Karena itu, saya tidak ingin menuduh siapa pun.
Biarlah penyelidikan dan proses hukum yang mengungkap semuanya secara terang.
Yang saya harapkan justru satu hal: Basri harus berani terbuka.
Jika memang ada orang lain di balik persoalan ini, sampaikan. Jika namanya digunakan, jelaskan. Jika ada pihak lain yang terlibat, ungkapkan. Dan jika memang terdapat bagian yang menjadi kesalahannya sendiri, hadapi dengan jujur dan bertanggung jawab.
Jangan sampai seseorang memikul sendiri beban yang sesungguhnya bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
Di sisi lain, kepada kita semua, khususnya keluarga besar dan masyarakat NTT di Batam, saya kira peristiwa ini juga mengajarkan pentingnya bersikap bijaksana.
Kita boleh sedih. Kita boleh kecewa. Kita boleh prihatin. Tetapi jangan sampai kita menjadi hakim sebelum pengadilan menjatuhkan putusan.
Media sosial bukan ruang sidang.
Potongan berita bukan keseluruhan kebenaran.
Dan seseorang yang sedang berhadapan dengan hukum tetaplah seorang manusia. Ia memiliki keluarga, perjalanan hidup, perjuangan, kebaikan, kelemahan, serta martabat yang tetap harus dihormati.
Saya menulis ini bukan untuk membela kesalahan.
Jika Basri terbukti salah, biarlah hukum membuktikan dan memprosesnya secara adil. Tetapi jika ternyata ada cerita yang lebih besar di balik persoalan ini, semoga Basri memiliki keberanian untuk membukanya.
Jangan sampai seseorang harus menanggung sendiri beban dari sebuah persoalan yang sesungguhnya melibatkan banyak kepentingan dan banyak pihak.
Saya mengenal Basri ketika beliau belum menjadi siapa-siapa.
Saya melihat sebagian perjuangannya untuk bertahan hidup di Batam. Karena itu, ketika hari ini banyak orang berbicara tentang dirinya berdasarkan persoalan yang sedang dihadapinya, saya memilih untuk tidak melupakan perjalanan panjang seorang manusia.
Kebenaran harus dibuka.
Kesalahan harus dipertanggungjawabkan.
Hukum harus ditegakkan.
Tetapi, kemanusiaan jangan sampai kita hilangkan.
Semoga Bapak Basri diberi kekuatan dalam menghadapi proses ini, keberanian untuk berkata jujur dan terbuka, serta kesempatan memperoleh proses hukum yang seadil-adilnya.
Dan semoga kita semua diberikan kebijaksanaan untuk tidak terlalu cepat menghakimi seseorang sebelum seluruh kebenaran terungkap.

