Opini  

Flores Berduka, Kita Bersaudara

Foto : Simon Payung Hasan.

Oleh: Simon Payung Masan

Flores kembali berduka

banner 728x90

Gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga-keluarga yang kehilangan orang tercinta, mengalami luka-luka, hingga harus meninggalkan rumah dan bertahan di tempat pengungsian.

Di balik angka korban dan laporan kerusakan, ada kisah manusia yang jauh lebih dalam. Ada seorang ibu yang memeluk anak-anaknya dalam ketakutan, seorang ayah yang harus menyaksikan rumah yang dibangun dengan susah payah mengalami kerusakan, serta anak-anak yang masih cemas setiap kali bumi kembali berguncang.

Flores sedang terluka

Namun, di tengah luka itu, kembali terlihat kekuatan yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Flores: persaudaraan.

Bencana tidak mengenal batas kampung, suku, agama maupun status sosial. Ketika bumi berguncang, semua berada dalam keadaan yang sama. Karena itu, ketika satu saudara tertimpa musibah, yang dibutuhkan bukan sekadar rasa iba, tetapi kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan.

Bagi orang Flores yang kini hidup jauh dari kampung halaman, kabar tentang gempa terasa begitu dekat. Jarak mungkin memisahkan tubuh, tetapi tidak pernah benar-benar memisahkan hati dari tanah kelahiran.

Dari Batam, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar hingga berbagai kota lainnya, banyak anak Flores menjalani kehidupan sebagai perantau. Namun, ketika kabar duka datang dari kampung halaman, ingatan tentang keluarga, rumah dan tanah leluhur seakan kembali hadir.

Mungkin tidak semua dapat pulang

Tidak semua bisa ikut mengangkat puing-puing rumah atau membantu langsung di lokasi bencana. Tetapi masih banyak hal yang dapat dilakukan.

Doa dapat dipanjatkan. Bantuan dapat dikumpulkan. Komunitas dapat digerakkan. Organisasi dan paguyuban dapat mengambil bagian. Yang tidak kalah penting, saudara-saudara yang terdampak harus diyakinkan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit ini seorang diri.

Duka Flores adalah duka kita bersama

Dalam situasi seperti ini, pertanyaan yang semestinya muncul bukan tentang dari kampung mana kita berasal atau kelompok mana yang paling dekat dengan kita.

Pertanyaannya sederhana:

Apa yang bisa kita lakukan untuk saudara kita yang sedang membutuhkan pertolongan?

Kepada mereka yang kehilangan anggota keluarga, semoga diberikan kekuatan dan penghiburan. Kepada para korban yang terluka, semoga segera mendapatkan kesembuhan. Kepada masyarakat yang masih bertahan di pengungsian, semoga kebutuhan dasar mereka segera terpenuhi dan diberikan ketabahan menghadapi hari-hari yang tidak mudah.

Doa juga menyertai para relawan, tenaga kesehatan, petugas kemanusiaan, pemerintah, TNI-Polri, lembaga keagamaan serta seluruh masyarakat yang berada di garis depan penanganan bencana.

Di tengah reruntuhan dan kepanikan, mereka membawa harapan

Bencana memang meninggalkan luka. Tetapi dari luka itu pula, persaudaraan dapat kembali diteguhkan.

Bagi orang Flores di perantauan, kampung halaman bukan sekadar tempat yang tercatat dalam identitas. Ia adalah rumah, tempat kenangan, keluarga, tanah leluhur dan bagian dari perjalanan hidup.

Karena itu, ketika Flores berduka, sejauh apa pun kaki melangkah, hati seakan dipanggil untuk pulang—setidaknya melalui kepedulian.

Tidak harus menunggu memiliki banyak untuk membantu. Tidak harus menunggu bisa pulang untuk menunjukkan solidaritas.

Sebab dalam keadaan seperti ini, sekecil apa pun bantuan yang diberikan dengan ketulusan dapat menjadi berarti bagi mereka yang sedang kehilangan.

Flores sedang berduka

Namun, Flores tidak sendiri.

Di berbagai penjuru negeri, anak-anak Flores masih memiliki satu ikatan yang tidak mudah diputus oleh jarak: persaudaraan.

Hari ini, mungkin yang paling dibutuhkan bukan hanya tangisan atas apa yang telah hilang, tetapi keberanian untuk berdiri bersama mereka yang masih berjuang.

Karena sejauh apa pun kita merantau, Flores tetaplah rumah.

Dan ketika rumah sedang berduka, anak-anaknya tidak boleh tinggal diam.

Flores Berduka.
Flores Tidak Sendiri.
Kita Bersaudara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *