Polres Kepulauan Meranti Resmi Wajibkan Tanjak dan Selempang Setiap Jumat, Wujud Pelestarian Budaya Melayu

Meranti,Owntalk.co.id – Polres Kepulauan Meranti resmi menerapkan kebijakan penggunaan tanjak dan selempang bagi seluruh personel setiap hari Jumat. Kebijakan ini merupakan bagian dari program Herry Heryawan selaku Kapolda Riau, yang dilaksanakan serentak di seluruh jajaran Polda Riau dan dilaunching pada Jumat (20/2).

Di tingkat Polres Kepulauan Meranti, apel launching dipimpin langsung Kapolres Aldi Alfa Faroqi, didampingi Wakapolres Kompol Detis Mayer Silitonga. Kegiatan tersebut diikuti para pejabat utama, perwira, dan seluruh personel.

Turut hadir Ketua Umum DPH Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti Datuk Sri Afrizal Cik, Sekretaris Umum Datuk Zaini Mahaddun, Ketua Umum Majelis Kekerabatan Adat LAMR Hj. Drs. Idham, serta Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Saiful Bakhri.

Prosesi launching ditandai dengan pemasangan tanjak dan selempang secara simbolis oleh Kapolres bersama Ketua LAMR kepada perwakilan personel. Momen tersebut menjadi penegasan bahwa seragam kepolisian kini berpadu dengan identitas budaya Melayu sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal.

Dalam arahannya, AKBP Aldi Alfa Faroqi menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum bersejarah yang sarat makna.

“Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk merawat nilai-nilai adat serta menjaga marwah budaya Melayu di Bumi Lancang Kuning,” ujarnya.

Menurutnya, tanjak dan selempang bukan sekadar atribut pelengkap. Di balik kain yang tersemat di kepala dan pundak tersebut, tersimpan simbol jati diri, kehormatan, serta harapan masyarakat terhadap sosok polisi yang santun dan berintegritas.

“Tanjak dan selempang bukan hanya atribut. Ini adalah simbol jati diri dan lambang kehormatan. Di pundak setiap anggota tersemat harapan masyarakat tentang kesantunan, tanggung jawab, dan integritas dalam bertugas,” tegasnya.

Ia menambahkan, budaya Melayu mengajarkan bahwa kekuatan tidak semata lahir dari ketegasan, tetapi juga dari kelembutan budi, kehalusan tutur kata, serta kebijaksanaan dalam bertindak.

“Polisi yang profesional adalah polisi yang mampu menghadirkan rasa aman sekaligus dicintai masyarakat,” tambahnya.

Kapolres juga menekankan pentingnya pendekatan humanis yang tidak hanya dibangun melalui tugas operasional, tetapi juga melalui sentuhan budaya dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.

“Dengan mengenakan tanjak dan selempang, kami ingin menunjukkan bahwa Polri adalah bagian dari masyarakat Melayu, hadir di tengah-tengah mereka, menjaga serta menghormati nilai-nilai yang dijunjung tinggi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres menyampaikan apresiasi kepada LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti dan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata atas sinergi dalam upaya pelestarian budaya Melayu di Negeri Sagu.

Menutup arahannya, ia mengajak seluruh personel menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum memperkuat integritas serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Ramadan adalah bulan pengendalian diri, kesabaran, serta penguatan nilai spiritual dan sosial yang selaras dengan tugas kepolisian,” tutupnya.

Exit mobile version