Oleh : Sarimin Adang
Kerangka Teoretis CDA Michel Foucault dan Posisi Wacana
Wacana menurut Michel Foucault tidak pernah bersifat netral. Ia selalu berkelindan dengan relasi kuasa (power relations) dan rezim kebenaran (regime of truth) yang bekerja dalam suatu masyarakat.^1. Dalam perspektif Foucault, bahasa tidak dipahami sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai praktik sosial yang secara aktif membentuk subjek, menentukan batas antara benar dan salah, serta mengatur cara manusia memahami realitas sosial.^2. Oleh karena itu, Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) ala Foucault berfokus pada bagaimana teks memproduksi pengetahuan, mendisiplinkan subjek, dan menormalisasi cara berpikir tertentu.
Wacana berjudul “Tuhan Tak Berbisik, Tapi Bertindak: Peringatan Buat Kaum Bebal” merupakan teks polemis yang secara eksplisit menantang diskursus keagamaan dominan. Teks ini tidak hanya menyampaikan kritik moral, tetapi juga menjalankan praktik kuasa melalui bahasa. Dengan menyematkan label “kaum bebal”, penulis secara simbolik menciptakan kategori subjek yang diposisikan sebagai tidak rasional, dogmatis, dan gagal memahami hakikat Tuhan. Dalam terminologi Foucault, praktik ini disebut subjectification, yakni proses pembentukan identitas subjek melalui mekanisme diskursif.^3
Wacana ini juga beroperasi sebagai counter-discourse, yakni wacana tandingan terhadap diskursus agama arus utama yang menekankan ritual verbal, doa, dan kepatuhan simbolik. Penulis menolak konsep Tuhan sebagai entitas yang “berbicara lewat kitab-kitab lama” dan menggantinya dengan pemahaman Tuhan sebagai “gerak”, “tindakan”, dan “kepedulian sosial”. Pergeseran makna ini menunjukkan adanya upaya pembongkaran rezim kebenaran religius yang telah mapan. Dalam kerangka Foucault, kebenaran tidak ditentukan oleh nilai metafisisnya, melainkan oleh siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikannya.^4
Melalui narasi bencana alam—banjir bandang dan longsor—teks ini mengaitkan agama dengan moralitas sosial dan tanggung jawab ekologis. Bencana tidak dipahami sebagai takdir ilahi semata, tetapi sebagai konsekuensi dari relasi kuasa yang korup, khususnya praktik penebangan liar oleh pejabat yang mengklaim kesalehan religius. Dengan demikian, wacana ini memindahkan locus kesalahan dari Tuhan ke struktur sosial dan politik, memperlihatkan bagaimana bahasa berfungsi sebagai alat kritik terhadap kolusi kuasa negara dan elit agama.^5
Relasi Kuasa, Agama, dan Produksi Makna Tuhan
Salah satu gagasan sentral Foucault adalah bahwa kuasa tidak selalu bekerja secara represif, melainkan produktif. Kuasa justru menghasilkan pengetahuan, norma, dan cara pandang tertentu yang kemudian diterima sebagai kebenaran sosial.^6. Dalam wacana yang dianalisis, agama dipotret sebagai arena pertarungan kuasa antara religiositas simbolik dan religiositas praksis. Teks ini menolak dominasi makna agama yang berpusat pada ritual verbal dan menggantikannya dengan etika tindakan konkret.
Penggambaran “kaum bebal yang mabuk agama” menunjukkan bagaimana wacana berfungsi sebagai mekanisme pendisiplinan subjek. Istilah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kritik moral, tetapi juga sebagai instrumen kuasa yang menetapkan standar rasionalitas baru: beragama harus diwujudkan dalam tindakan sosial, bukan sekadar pengulangan simbol dan doa.^7. Dalam istilah Foucault, proses ini disebut normalization.
Narasi tentang relawan dari komunitas agama lain yang hadir membantu korban bencana merupakan strategi diskursif yang signifikan. Wacana ini membalik hierarki moral yang lazim, di mana kesalehan biasanya diukur melalui identitas agama formal. Pembalikan ini menciptakan rupture dalam diskursus keagamaan mapan dan memaksa pembaca mempertanyakan ulang definisi kesalehan dan kehadiran Tuhan.^8
Dengan menyatakan bahwa “Tuhan hadir dalam kepedulian mereka”, penulis mengklaim otoritas interpretatif atas makna kehadiran Tuhan. Klaim ini menunjukkan bagaimana kuasa simbolik dapat bergeser dari institusi agama formal ke praktik etis sehari-hari. Dalam perspektif Foucault, kuasa semacam ini tidak terpusat, melainkan tersebar dalam praktik-praktik sosial dan bahasa moral yang digunakan manusia.^9
Ideologi, Resistensi, dan Kesadaran Kritis
Dalam Analisis Wacana Kritis ala Foucault, teks selalu dipahami sebagai arena resistensi. Wacana “Tuhan Tak Berbisik, Tapi Bertindak” merupakan bentuk perlawanan terhadap ideologi religius yang memisahkan iman dari tanggung jawab sosial. Ideologi tersebut bekerja secara halus melalui praktik ritual yang dinaturalisasi sebagai bentuk kesalehan tertinggi.^10
Teks ini membongkar ideologi tersebut dengan menampilkan kontradiksi antara klaim kesalehan dan realitas sosial. Doa-doa digambarkan sebagai “kosong” ketika tidak disertai tindakan. Kritik ini sejalan dengan konsep discursive formation Foucault, yaitu sistem pemikiran yang membuat praktik tertentu tampak wajar dan tidak perlu dipertanyakan.^11
Ajakan untuk “membuka hati” dan “berhenti mengidolakan bayangan” merepresentasikan upaya pembebasan subjek dari belenggu dogma. Namun, sebagaimana ditegaskan Foucault, pembebasan tidak pernah berarti keluar sepenuhnya dari kuasa, melainkan berpindah dari satu rezim kebenaran ke rezim kebenaran lain.^12
Oleh karena itu, teks ini sendiri berpotensi membentuk struktur kuasa baru dengan mengidealkan tindakan sosial sebagai satu-satunya ukuran religiositas sejati.
Meski demikian, kontribusi utama wacana ini terletak pada kemampuannya membangkitkan kesadaran kritis. Bencana alam tidak lagi dipahami sebagai murka Tuhan, melainkan sebagai cermin kegagalan etis manusia dalam mengelola kuasa, alam, dan sesama. Tuhan diredefinisi sebagai prinsip moral yang hidup dalam solidaritas, keadilan, dan kepedulian lintas agama.
Kesimpulan
Analisis wacana kritis perspektif Michel Foucault menunjukkan bahwa teks “Tuhan Tak Berbisik, Tapi Bertindak” bukan sekadar opini keagamaan, melainkan praktik diskursif yang aktif membentuk makna Tuhan, agama, dan moralitas sosial. Melalui bahasa polemis, teks ini mendekonstruksi religiositas simbolik dan menawarkan etika tindakan sebagai rezim kebenaran alternatif. Wacana ini berfungsi sebagai bentuk resistensi terhadap ideologi agama yang ahistoris, sekaligus membuka ruang kesadaran kritis yang lebih kontekstual dan humanis.
Catatan Kaki
- Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131.
- Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge (New York: Pantheon Books, 1972), 49.
- Ibid., 50–52.
- Foucault, Power/Knowledge, 133–134.
- Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison (New York: Vintage Books, 1977), 26–27.
- Ibid., 194.
- Foucault, Power/Knowledge, 119.
- Foucault, The Archaeology of Knowledge, 167.
- Foucault, Discipline and Punish, 208.
- Norman Fairclough, Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language (London: Longman, 1995), 45.
- Foucault, The Archaeology of Knowledge, 38–39.
- Foucault, Power/Knowledge, 142.
Bibliografi (Turabian Style – Konsisten)
Fairclough, Norman. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London: Longman, 1995.
Foucault, Michel. The Archaeology of Knowledge. New York: Pantheon Books, 1972.
———. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books, 1977.
———. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings. New York: Pantheon Books, 1980.
