[Opini] Berbahasa, Berbangsa dan Bertanah Air Satu Kita Yang Perlu Direnungkan

  • Bagikan
Jacob Ereste

Sumpah pemuda 93 tahun silam itu dalam nalar awam adalah tekad kesatuan dalam kebersamaan bangsa, bahasa dan satu negara yang bertanah air satu, yaitu Indonesia.

Artinya, bangsa Indonesia telah ada dan sudah menyadari satunya bangsa dan satunya bahasa Indonesia serta satunya tanah air, yaitu Indobesia. Lalu menjelang usia nyaris seabad sekarang ini, kesatuan dan kebersamaan itu seperti sedang terancam pecah oleh ulah segelintir orang, meski pada 17 tahun kemudian (1945) telah resmi diproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Toh, perpecahan itu terus mengancam dan meresahkan setiap orang yang berjiwa nasionalisme Indonesia talah sudah dibingkai dalam Bhineka Tunggal Ika. Artinya pun, dari keanekaragaman ini tetap adanya kesadaran dalam kesatuan dan kebersamaan satu bahasa, satu bangsa dan satu negara, yaitu Indonesia.

Dalam konteks ini agaknya, istilah NKRI harga mati itu bisa dipahami. Meski tetap saja pendapat mereka yang tidak kalah kritis menyanggah pendirian seperti itu. Sebab dalam khazanah pemahaman bahasa Indonesia yang baik dan benar ungkapan “harga mati” itu hanya ada dalam geo-ekonomi perdagangan. Karena NKRI itu menjadi famali untuk dimasukkan dalam karagori apapun yang kenotasinya bisa dan boleh diperjual-belikan.

Baca juga :

Lain ceritanya bila sekedat semacam sanepo belaja untuk mencibir terhadap perilaku mereka yang memang cenderung ingin menjual negeri kita ini untuk mendapatkan pundi-pundi guna memenuhi kantongnya sendiri.

Padahal, hakekat kebersamaan dalam satu kesatuan bahasa, bangsa dan tanah air itu dapat ditilik satu langkah ke belakang — jauh sebelum Indonesia diproklamasikan. Yaitu adanya suku bangsa (etnis), ragam bahasa daerah atau puak yang banyak serta negeri-negeri yang ada di pelosok nusantara– hingga kemudian melebur — menjadi NKRI. Pertanyaan klasik yang mengusik adalah, dimana posisi dari keberadaan mereka itu — keraton dan kerajaan-kerajaan yang ada dahulu itu — yang telah ikhlas melebur menjadi bagian dari NKRI ?

Sungguhkah akibat dari bahasa, bangsa dan tanah air Indonesia yang telah dipersatukan ini jadi penghimpit para wali negeri di republik ini ?

Kritik keras terhadap istilah “NKRI harga mati” ini pun — seperti yang dilontarkan Benny Akbar Fatah sejak beberapa tahun silam itu — sangat relevan menjadi tajuk bincang pada peringatan hari sumpah pemuda tahun ini. Setidaknya, dalam perspektif prasa dari bahasa Indonesia sendiri yang menjadi item penting untuk diperingati serta direnungkan essensinya yang paling substabsial sifatnya, adalah bahasa persatuan dari kesadaran berbangsa dan bertanah air satu itu — yaitu Indonesia.

Banten, 28 Oktober 2021 – Jacob Ereste

  • Bagikan