Idul Adha, Simbol Ketundukan & Penghambaan

  • Bagikan

Perayaan Idul Adha 1442 H. Hari ini adalah kali kedua pelaksanaan hari raya Idul Adha ditengah pandemi. Negara melalui beberapa kementerian telah menerbitkan penerapan prokes melalui Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam penyelenggaraan Shalat Id. & Penyembelihan hewan kurban. Pemberlakuan ini bertujuan baik menuju Hospitalisasi Ruang Publik yang mengarah pada mitigasi penyebaran Covid-19.

Pelaksanaan kesalehan Nabi Ibrasim As diawali dengan Puasa Dzuhijjah lalu orkestrasi seperti takbiran, silaturahmi yang semuanya kini lebih etis jika mengedepankan prokes. Ritual kuncinya terletak pada nomenklatur Adha yang berarti pengorbanan. Sehingga Idul Adha adalah hari penyerahan dan penghambaan kepada Allah SWT yang memiliki arti pemutusan segala bentuk keterikatan dan ketergantungan pada dunia.

Dalam tradisi berkurban, manusia akan mempersembahkan sebuah hadia berharga kepada sang Kekasih dengan keridhaan, memutus leher ketamakan dalam dirinya dan mengorbankan kekayaannya untuk dikorbankan.
Ketahuilah daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kalianlah yang dapat mencapai keridhaannya (QS. Al-Hajj : 37).

Idul adha adalah hari pembebasan diri dari segala jenis keterikatan dan ketergantungan kepada dunia dan bebas dari segala hal selain Tuhan. Terdapat banyak rintangan, bahaya dan ujian berat dalam menelusuri jalan penghambaan kepada Tuhan, Nabi Ibrahim As. yang telah bertahun-tahun menanti kelahiran Nabi Ismail As. mendapat ujian besar dari Allah SWT untuk mengorbankan putranya tersebut.

Baca Juga :

Berkurban memiliki hukum-hukum dan syarat-syarat tertentu, seperti harus muslim, hewan kurban harus dihadapkan ke Kiblat dengan tujuan semata-mata penghambaan kepada kepada Tuhan.

Menghadap hewan kurban ke kiblat mengajarkan kita bahwa sebelum bergerak dijalan kesempurnaan menuju kedekatan dan keridhaan Allah SWT kita harus menemukan kiblat terlebih dahulu dan mengabaikan arah lainnya untuk melepaskan diri dari hawa nafsu. Sedangkan harus Muslim berarti bahwa orang yang telah sampai pada tahap penyerahan dan ketundukan. Seperti Nabi Ibrahim As. yang menyembeli Ismail sebagai simbol harta dan kekayaan yang paling dicintai dan berharga dalam hidup kita. Jika kita belum sampai pada tahap tunduk dan patuh maka, kita tidak akan memperoleh manfaat dari berkurban sebab Idul Kurban merupakan peringatan atas epik pengorbanan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As.

Oleh karena itu, Semua manusia disetiap masa harus mengambil hikmah dari Kedua manusia agung yaitu Nabi Ibrahim & Nabi Ismail sebagai pembimbing besar Tauhid dalam meniti jalan keridhaan Allah SWT sebab melepaskan kertergantungan kepada dunia dan jihad melawan hawa nafsu lebih sulit dibandingankan dengan menghadap musuh yang nyata.

Sebagian beaar ulama menafsirkan arti Membunuh dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 54 adalah membunuh hawa nafsu. Dengan demikian berkurban dalam pandangan irfan adalah rahasia meninggalkan hawa nafsu dan bergerak menuju keridhaan Allah SWT.

Selamat berkurban ditengah pandemi Covid-19 yang riah dengan segala problematika kehidupan. Imunitas tubuh dan pangan yang kian menipis mendorong kita menyerap ruh pengabdian Nabi Ibrahim sebagai napas untuk menepis malapetaka egoisme beragama sehingga diri kita mengejewantah sebagai hamba yang seutuhnya mengabdi kepadanya dalam suatu misi kemaslahatan kemanusiaan universal.

Opini Ini dikirim oleh : Abdul Salam Hamda

  • Bagikan