Sosialisasi 4 Pilar, Richard Pasaribu Ajak GAMKI Kepri Perkuat Toleransi

  • Bagikan
Berita Terkini Batam
Dr. Richard Pasaribu menggelar Sosialisasi Empat Pilar di Batam, Kepulauan Riau

Batam, Owntalk.co.id – Intoleransi pada anak, remaja, dan pemuda sebenarnya masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Organisasi kepemudaan berperan penting melakukan pendekatan dan diskusi lintas agama dalam mengamanahkan toleransi.

Dalam acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kepada Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kepri di Batam, Minggu (30/5), Senator Kepulauan Riau, Dr. Richard Pasaribu, mengatakan gejala intoleransi dan radikalisme terus masuk ke kalangan muda.

“Kita menghadapi suatu situasi di kalangan generasi muda ada fenomena radikalisme, ekstremisme. Dari fenomena ini, GAMKI dan organisasi kepemudaan yang lain dapat mempunyai peran dalam mempromosikan kerukunan beragama, melalui pendekatan yang inklusif untuk mengedepankan kesamaan antar agama dipandang lebih penting daripada perbedaan,” katanya dalam paparannya.

Lebih lanjut Richard Pasaribu menyampaikan, pelaksanaan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan tersebut adalah tugas yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019.

“Pelaksanaan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan merupakan upaya Pemerintah dalam menjaga tetap utuhnya Indonesia sebagai satu negara yang berdaulat. Namun terkait, tindakan-tindakan intoleran yang menodai negeri ini, Negara harus hadir dan perlu lebih serius mengambil sikap karena intoleransi bisa menjadi pemantik berbagai kejahatan yang lebih besar bentuk dan efeknya, seperti terorisme,” katanya.

Baca Juga :

Sementara Ketua DPD GAMKI Kepri, Rikson Tampubolon, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa bangsa Indonesia memiliki tantangan besar seiring dengan derasnya informasi publik di era digital saat ini.

“Begitu masifnya seluruh informasi dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari anak-anak sampai remaja dan juga orangtua membuat solidaritas kita sebagai satu bangsa luntur, dan bagi sebagian orang, solidaritas terhadap negara lain seperti Palestina jauh lebih tinggi dibanding sesama anak Indonesia. Seperti anak SMA yang dikeluarkan dari sekolahnya karena membuat konten terkait konflik Israel-Palestina di media sosial,” terang Rikson.

Menutup acara, Dr. Richard Pasaribu mengajak GAMKI Kepri menjadi agen terdepan dalam membangun kolaborasi antar pemerintah dengan ulama, masyarakat, pemuda dan seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama berjuang membasmi bibit intoleransi sampai ke akar-akarnya.

  • Bagikan