[Profil] – Siti Aisyah, Ketua Paguyuban Perempuan Pertama di Kepri

  • Bagikan
Profil Siti Aisyah

Wanita tidak hanya dinilai dari segi fisiknya saja, melainkan juga dituntut untuk memiliki kualitas diri agar dapat menjadi kompetitif. Setiap wanita yang ingin sukses, baik secara karir maupun kehidupan, harus memiliki karakter tangguh dalam menyelesaikan permasalahan.

Dengan menjadi wanita tangguh, berarti wanita tersebut juga memiliki sifat sabar dan lebih kuat. Dial ah wanita yang tak mudah bergantung pada orang lain, sehingga tidak menjadi beban untuk orang sekitar.

“Dunia membutuhkan wanita yang kuat. Wanita yang akan mengangkat dan membangun orang lain, yang akan mencintai dan dicintai. Wanita yang hidup dengan berani, baik lembut dan ganas. Wanita dengan tekad yang kuat” – Oprah Winfrey

Sekiranya itulah quotes yang pantas dideskripsikan untuk Siti Aisyah. Wanita kelahiran Sungai Buluh yang menjalani hidup dengan tekad yang kuat. Pasalnya, anak ke empat dari tujuh bersaudara itu dibesarkan dari keluarga yang kurang mampu.

Sang ayah, Zahari (Alm), yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh dan ibunya, Mahara (Alm) hanyalah seorang ibu rumah tangga (IRT) yang menjadi tempat mengadu bagi anak-anaknya kala merasa sedih dan lelah. Sekuat itulah sosok ibu yang bahkan selalu terlihat kuat dihadapan anak-anaknya tanpa peduli akan luka hati yang mungkin tergores dihatinya.

Siti Aisyah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) nya di desa kelahirannya itu. Dirinya, merupakan alumni dari SD N 01 Sei Lingga.Dengan keadaan ekonomi yang tak memadai, Siti harus merasakan lika liku kehidupan yang rumit.

Baca Juga :

Semasa SD, dirinya harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia pernah berjualan nasi yang telah dimasak oleh ibunya lalu di jajahkan menggunakan keranjang. Pahit bukan? Ya, tentu saja, dikala anak-anak SD merasakan indahnya bermain, namun Siti harus bekerja keras untuk memenuhi keinginanya.

Sering kali, Siti dan saudara-saudaranya yang lain harus menyantap sagu dan ikan sale sebagai makanan pokok mereka. Hal itu dikarenakan ketidakmampuan orang tuanya dalam membeli beras untuk makan.

“Dulu sering kali tidak makan nasi karena orang tua tidak bisa beli beras. Jadinya, kami sekeluarga makan sagu sama ikan sale,” kenang Siti sembari mengingat pahitnya akan hari-hari itu.

Tak berhenti sampai disitu, Siti harus merasakan pahitnya kehilangan sosok yang amat dicintainya. Pasalnya, orang tua yang membesarkannya selama ini harus menghadap sang Khalik saat dirinya menginjak usia 13 tahun. Ayah Ibu, rasanya dunia ini begitu sunyi tanpa kehadiran dirimu

Setelah kepergian orang tuanya, Siti yang kala itu duduk di bangku kelas satu SMP harus melalui hari-hari yang begitu sulit tanpa dekapan dan semangat dari orang tua. Dirinya memiliki cita-cita untuk dapat sukses dimasa depan seperti apa yang diharapkan oleh mendiang orang tuanya. Demi mencari uang jajan beserta ongkos untuk dapat pergi ke sekolah, Siti harus menjadi tukang cuci baju dan gosok dirumah-rumah tetangga. Tak pernah sekalipun raut wajah malu ditunjukan oleh Siti remaja.

Baca Halaman Selanjutnya….

  • Bagikan