Survei Nasional Poltracking-XSagha: BRI dan Pertamina Jadi Merek Paling Dipercaya Publik

Jakarta, Owntalk.co.id — BRI dan Pertamina menjadi dua nama yang menonjol dalam peta kepercayaan publik terhadap perusahaan dan merek di sejumlah sektor strategis. Temuan tersebut terungkap dalam survei nasional Poltracking Indonesia bersama XSagha – Market Research & Brand Strategy yang dilakukan pada pertengahan Agustus 2026.

Survei dilaksanakan pada 14–20 Agustus 2026 menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan melibatkan 1.220 responden. Survei memiliki margin of error +/-2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengambilan sampel menjangkau 38 provinsi di Indonesia secara proporsional berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024, dengan stratifikasi berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih terhadap responden yang dipilih secara acak dengan dukungan teknologi aplikasi.

Survei tersebut bertujuan memotret persepsi, tingkat kepercayaan, kesukaan, serta preferensi masyarakat terhadap BUMN dan berbagai merek di sektor strategis.

Dalam pertanyaan terbuka mengenai BUMN yang paling terekam dalam ingatan publik, Pertamina menempati posisi teratas dengan 11,3 persen. Berikutnya PLN 5,3 persen dan BRI 1,8 persen. Pegadaian serta Bank Mandiri masing-masing tercatat 0,5 persen.

Sementara dari sisi tingkat kesukaan, PLN berada di posisi teratas dengan 77,3 persen, disusul BRI 75,4 persen, Telkom Indonesia 73,3 persen dan Pertamina 73,2 persen.

Pos Indonesia mencatat tingkat kesukaan 69,8 persen, Bank Mandiri 67,5 persen, BNI 66,2 persen, KAI 62,3 persen, Pegadaian 57,8 persen dan BTN 52,9 persen.

BRI Teratas dalam Kepercayaan Perbankan

Di sektor perbankan, BRI menjadi bank yang paling dipercaya masyarakat. Sebanyak 45,4 persen responden menyebut BRI sebagai bank yang mereka percaya.

Posisi berikutnya ditempati Bank Mandiri 11,5 persen, BCA 8,3 persen, BNI 4 persen dan BSI 2,9 persen. Sementara bank lainnya berada di bawah 1 persen.

Survei juga menunjukkan BRI memiliki proporsi nasabah paling tinggi di antara bank BUMN yang ditanyakan. Sebanyak 45,4 persen responden mengaku menjadi nasabah BRI.

Untuk Bank Mandiri, 13,7 persen responden menyatakan sebagai nasabah. BNI tercatat 9,4 persen dan BTN 3 persen.

Kemudahan akses menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan masyarakat memilih bank. Jaringan ATM dan kantor cabang yang luas menjadi alasan utama dengan 24,5 persen, disusul aplikasi mobile banking yang jarang mengalami gangguan sebesar 12,3 persen dan kemudahan pengajuan kredit atau pinjaman 11,2 persen.

Pertamina Dominasi Pilihan Bahan Bakar

Di sektor energi, Pertamina menunjukkan dominasi yang sangat kuat. Sebanyak 84,3 persen responden memilih Pertamina sebagai SPBU atau merek bahan bakar untuk kebutuhan kendaraan.

Jauh di bawahnya terdapat Shell 1,6 persen, BP AKR 0,4 persen dan Vivo 0,2 persen.

Meski demikian, sebagian masyarakat yang tidak memilih Pertamina menyebut sejumlah alasan. Di antaranya lokasi SPBU yang kurang mudah dijangkau sebesar 8,4 persen, antrean terlalu panjang 6,6 persen serta penilaian terhadap kualitas bahan bakar sebesar 5,2 persen.

Sementara itu, PLN memperoleh penilaian positif dalam hal pelayanan. Sebanyak 73,2 persen responden menyatakan puas terhadap layanan PLN, sedangkan 19,2 persen menyatakan tidak puas.

Dalam penanganan keluhan dan kebutuhan pelanggan, 72,9 persen responden menilai PLN memiliki kinerja yang baik. Sebanyak 18 persen memberikan penilaian sebaliknya.

Toyota dan Honda Unggul di Sektor Otomotif

Pada sektor otomotif, Toyota menjadi merek mobil yang paling dipercaya dari sisi kualitas dan keandalan dengan 15 persen, disusul Honda 14,9 persen dan Mitsubishi 4,3 persen.

Kualitas serta keandalan mesin atau kendaraan menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih mobil, yakni 23,8 persen. Berikutnya harga kendaraan 13,2 persen serta desain dan kenyamanan 5 persen.

Untuk kendaraan listrik, BYD menjadi merek yang paling dipercaya dengan 9,2 persen, disusul Wuling 4,1 persen dan Chery 4 persen.

Namun, survei juga menunjukkan masih adanya keraguan masyarakat terhadap kendaraan listrik. Sebanyak 10,5 persen responden mengaku belum percaya terhadap kualitas kendaraan listrik, 7,5 persen belum yakin dengan aspek keamanan dan 7,3 persen menilai harganya masih terlalu mahal.

Sementara untuk sepeda motor, Honda mendominasi tingkat kepercayaan publik dengan 64,1 persen, disusul Yamaha 14,5 persen dan Suzuki 2,4 persen.

Keiritan bahan bakar menjadi alasan utama masyarakat memilih sepeda motor dengan 18,6 persen, diikuti harga beli kendaraan 12 persen serta kemudahan menjangkau bengkel resmi 9,1 persen.

Telkomsel Pimpin Kepercayaan Operator Seluler

Di sektor telekomunikasi, layanan Telkom Indonesia yang paling dikenal publik adalah internet dengan 44,7 persen, kemudian jaringan dan infrastruktur telekomunikasi 12,7 persen serta telepon dan komunikasi 12,4 persen.

Untuk operator seluler yang dipercaya dari sisi kualitas dan jaringan, Telkomsel berada di posisi pertama dengan 46,9 persen. Berikutnya Indosat atau IM3 14,7 persen dan AXIS 8,4 persen.

Jangkauan yang luas menjadi alasan utama masyarakat memilih operator seluler dengan 19,1 persen, disusul sinyal yang kuat dan stabil 15,6 persen serta kecepatan internet 13,6 persen.

Di sektor jasa ekspedisi, J&T Express menjadi pilihan utama dengan 43 persen, diikuti JNE Express 12,3 persen dan Pos Indonesia 7,2 persen.

Aqua Pimpin Kepercayaan Merek Air Kemasan

Survei juga memotret tingkat kepercayaan publik terhadap merek air minum dalam kemasan (AMDK).

Aqua berada di posisi teratas dengan 46,2 persen, disusul Le Minerale 26,8 persen dan Cleo 3,6 persen.

Dalam menentukan pilihan air kemasan, harga dan kemudahan menemukan produk di toko menjadi pertimbangan terbesar dengan 35,5 persen. Faktor berikutnya adalah jaminan kebersihan dan kualitas higienis sebesar 25,4 persen serta rasa dan kesegaran air 16 persen.

Temuan survei Poltracking Indonesia dan XSagha ini menjadi gambaran mengenai persepsi dan preferensi masyarakat pada pertengahan 2026. Namun, persepsi publik terhadap BUMN maupun berbagai merek masih dapat berubah seiring dengan strategi, inovasi, promosi dan peningkatan kualitas layanan yang dilakukan masing-masing perusahaan.

Peneliti XSagha – Market Research & Brand Strategy, Ahmad Zia Fitrahuddin, menyebut hasil tersebut sebagai potret terbaru persepsi publik berdasarkan survei nasional yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026.

Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pengenalan merek tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesukaan atau kepercayaan. Faktor seperti aksesibilitas, kualitas layanan, keandalan produk, harga dan pengalaman konsumen turut menjadi penentu dalam membentuk preferensi masyarakat.

Exit mobile version