Senyum Anak-anak di Tenda Pengungsian Saat Presiden Prabowo Datang ke Nagekeo

Flores, Owntalk.co.id — Warga Nagekeo menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan hangat, Rabu (26/8/2026).

Sejak pagi, warga telah menunggu di sekitar lokasi pengungsian. Mereka datang dengan berbagai keperluan. Ada yang ingin menyampaikan kondisi yang mereka alami setelah gempa, ada yang berharap bisa berjabat tangan langsung dengan Presiden, dan ada pula yang sekadar ingin melihat dari dekat sosok yang datang membawa perhatian pemerintah.

Di antara kerumunan warga, anak-anak juga ikut mendekat.

Suasana di tenda pengungsian seketika menjadi lebih hidup ketika tangan-tangan kecil mereka terulur menerima mainan. Beberapa anak terlihat tersenyum. Momen itu sederhana, tetapi bagi mereka yang masih menjalani hari-hari di pengungsian, perhatian seperti itu tentu memiliki arti tersendiri.

Gempa telah mengubah banyak hal. Rumah, sekolah, dan rutinitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka harus ditinggalkan untuk sementara. Kini, sebagian dari mereka masih harus menjalani hari di tengah tenda-tenda pengungsian.

Kehadiran Presiden Prabowo di Nagekeo menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan penanganan pascabencana terus berjalan. Bantuan logistik juga masih didistribusikan kepada masyarakat terdampak.

Hingga Rabu, pemerintah telah menyalurkan sekitar 250 ton logistik ke wilayah terdampak. Dapur-dapur yang tersedia di lokasi pengungsian pun terus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan makanan warga.

Sebanyak 11 dapur MBG turut digunakan untuk menyiapkan makanan bagi masyarakat.

Di hadapan warga, Presiden Prabowo menyampaikan pesan agar masyarakat tidak merasa sendiri dalam menghadapi situasi pascabencana.

“Percayalah, pemerintah tidak akan membiarkan saudara sendiri. Kita hadir dan kita akan terus membantu saudara-saudara.”

Bagi warga yang masih berada di pengungsian, bantuan tersebut bukan hanya soal jumlah logistik yang datang. Ada rasa bahwa mereka tidak ditinggalkan ketika sedang menghadapi masa yang tidak mudah.

Dan bagi anak-anak, mungkin yang paling mereka ingat dari kunjungan hari itu bukan angka 250 ton logistik atau jumlah dapur yang disiapkan.

Melainkan sebuah mainan yang diterima dengan tangan kecil mereka, serta senyum yang kembali muncul di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.

Nagekeo masih membutuhkan waktu untuk bangkit. Rumah-rumah harus diperbaiki, aktivitas masyarakat harus kembali berjalan, dan anak-anak tentu berharap bisa segera kembali ke sekolah.

Namun hari itu, dari sebuah tenda pengungsian, terlihat satu hal sederhana: harapan belum hilang.

Senyum anak-anak itu menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang Nagekeo untuk kembali pulih.

Exit mobile version