Tentang Keikhlasan, Persaudaraan, dan Kebaikan yang Tak Perlu Dihitung
Oleh: Simon Payung Masan
Tulisan ini bukan tentang siapa yang harus dibela dan siapa yang harus disalahkan. Sebuah percakapan sederhana justru membawa saya pulang untuk memeriksa diri sendiri: apakah di tengah kehidupan yang semakin maju, kita masih memiliki keikhlasan untuk menolong tanpa menghitung?
Sebuah percakapan sederhana dengan Romo Paschal beberapa waktu lalu membawa saya pada perenungan yang cukup panjang. Awalnya kami berbicara tentang seseorang dan perjalanan hidupnya. Namun setelah percakapan itu selesai, pikiran saya justru bergerak ke arah yang lain. Saya merasa percakapan tersebut seperti sebuah cermin: bukan untuk melihat kekurangan orang lain, melainkan untuk melihat kembali diri sendiri.
Saya teringat pada kehidupan para perantau generasi terdahulu di Batam dan Kepulauan Riau. Banyak dari mereka datang tanpa kemudahan. Mereka memulai kehidupan dari bawah, bekerja apa saja yang dapat dikerjakan, saling mencari tempat berteduh, saling mengenalkan pekerjaan, dan saling membantu ketika seorang saudara menghadapi kesulitan.
Pada masa itu, mungkin orang tidak mempunyai banyak uang. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah berharga: rasa bahwa kesulitan seorang saudara adalah sesuatu yang pantas ikut dipikirkan. Ada rumah yang pintunya dibuka. Ada sepiring makanan yang dibagi. Ada orang yang bersedia menemani ketika yang lain berhadapan dengan persoalan. Tidak semuanya dicatat, tidak semuanya diumumkan, dan tidak semuanya diminta kembali.
Di situlah saya mulai bertanya: apakah keikhlasan seperti itu masih kuat dalam kehidupan kita hari ini?
Tentu tidak adil apabila kita mengatakan bahwa manusia dahulu semuanya lebih baik dan manusia sekarang semuanya lebih mementingkan diri sendiri. Setiap zaman mempunyai kebaikan dan persoalannya sendiri. Hari ini pun masih sangat banyak orang yang menolong dengan tulus. Tetapi perubahan zaman membuat hubungan antarmanusia semakin kompleks. Kepentingan ekonomi, kedudukan, jaringan, media sosial, dan berbagai perhitungan lain mudah masuk ke dalam hubungan yang sebelumnya sederhana.
Akibatnya, tanpa sadar pertolongan kadang berubah menjadi semacam investasi sosial: saya pernah membantumu, maka suatu hari engkau seharusnya membantu saya. Saya pernah berdiri di sampingmu, maka ketika saya membutuhkan sesuatu, engkau wajib berdiri di samping saya. Jika tidak, kebaikan masa lalu mulai dihitung kembali.
Padahal, bila sebuah kebaikan terus kita simpan sebagai tagihan, apakah ia masih dapat disebut keikhlasan?
Saya pun mencoba mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri. Dalam perjalanan hidup, tentu ada orang yang pernah saya bantu. Sebaliknya, jauh lebih banyak pula orang yang pernah membantu saya. Kalau semuanya harus dihitung sebagai utang dan piutang budi, barangkali kita tidak akan pernah selesai membuat pembukuannya.
Kebaikan sesungguhnya bukan transaksi. Ketika kita menolong seseorang yang sedang membutuhkan, nilai pertolongan itu justru terletak pada ketulusan saat kita melakukannya. Kita tidak sedang membeli kesetiaan orang tersebut untuk masa depan. Kita tidak sedang menanam modal agar suatu hari ia wajib membayar kembali kepada kita.
Mungkin balasan terbaik dari sebuah kebaikan bahkan tidak perlu kembali kepada orang yang memberikannya. Seseorang yang pernah ditolong dapat meneruskan pertolongan itu kepada manusia lain. Dengan cara demikian, kebaikan tidak berjalan dalam lingkaran sempit antara “saya dan kamu”, tetapi bergerak dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Namun keikhlasan dan persaudaraan juga tidak boleh disalahartikan. Menjadi saudara bukan berarti kita harus membenarkan semua tindakan seorang saudara. Menolong seseorang juga tidak berarti kita harus menutup mata terhadap kesalahannya.
Di sinilah menurut saya persaudaraan membutuhkan kedewasaan. Kita harus mampu membedakan antara mencintai manusianya dan menilai perbuatannya. Ketika seseorang diperlakukan tidak adil, kita patut membelanya. Ketika haknya harus dihormati, kita patut berdiri bersamanya. Tetapi ketika ia melakukan kesalahan, persaudaraan tidak boleh dipakai untuk menutupi kebenaran.
Membela martabat seorang manusia tidak sama dengan membenarkan semua perbuatannya. Sebaliknya, mengakui kesalahan seseorang juga tidak berarti kita kehilangan kasih dan persaudaraan kepadanya.
Pemikiran itu membawa saya kembali kepada generasi orang-orang tua kita. Mereka memang hidup pada zaman yang berbeda. Banyak keterbatasan yang mereka hadapi, tetapi dalam keterbatasan itu lahir berbagai bentuk solidaritas. Mereka membangun kehidupan bukan hanya melalui rumah, pekerjaan, usaha, atau kedudukan. Mereka juga membangunnya melalui pintu yang terbuka bagi sesama, tangan yang terulur, dan kesediaan untuk hadir ketika seorang saudara sedang berada dalam kesulitan.
Warisan seperti itulah yang menurut saya jangan sampai hilang. Bukan berarti kita harus kembali hidup seperti puluhan tahun lalu. Zaman akan terus berubah dan kita pun harus maju. Tetapi kemajuan seharusnya tidak membuat hati kita semakin pandai menghitung untung dan rugi dalam setiap hubungan kemanusiaan.
Pada akhirnya, percakapan sederhana dengan Romo Paschal itu tidak membuat saya ingin menilai siapa pun. Justru saya merasa sedang diingatkan untuk memeriksa diri sendiri.
Apakah saya masih mampu menolong tanpa menghitung?
Apakah saya masih mampu bersaudara tanpa selalu bertanya apa keuntungan bagi diri saya?
Apakah saya mampu berbuat baik, lalu membiarkan kebaikan itu pergi tanpa menagihnya kembali?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak hanya untuk saya. Barangkali ia juga layak menjadi cermin kecil bagi kita semua.
Kebaikan tidak harus kembali kepada tangan yang memberikannya. Kebaikan cukup diteruskan dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Kalau nilai itu masih dapat kita pertahankan di tengah perubahan zaman, berarti warisan paling berharga dari generasi sebelum kita belum hilang. Tugas kita bukan sekadar mengenangnya. Tugas kita adalah meneruskannya.
