NTT, Owntalk.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB.
Berdasarkan pembaruan data BNPB per Minggu (16/8/2026) pukul 21.00 WIB, gempa tersebut telah menimbulkan dampak signifikan terhadap masyarakat di sejumlah wilayah.
Sebanyak 54 orang meninggal dunia, sementara 199 orang mengalami luka-luka. Gempa juga memaksa 9.963 orang mengungsi, dengan total 1.528 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak.
Kerusakan bangunan juga cukup besar. BNPB mencatat 2.403 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 1.543 rumah rusak berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah rusak ringan.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas publik turut terdampak. Tercatat 110 fasilitas pendidikan, 211 fasilitas kesehatan, 65 rumah ibadah, dan 105 unit kantor mengalami kerusakan atau terdampak akibat gempa.
Dampak lainnya meliputi satu gudang Bulog, 18 fasilitas irigasi, 42 fasilitas umum, serta 34 titik jalan yang turut terdampak.
Tersebar di Sejumlah Wilayah
Dampak gempa tercatat di sembilan kabupaten dan satu kota. Di NTT, wilayah terdampak meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, Nagekeo, dan Ende.
Dampak juga tercatat di Kabupaten Bima dan Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Sejumlah pemerintah daerah telah menetapkan status kedaruratan guna mempercepat penanganan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak.
Pemerintah Provinsi NTT menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung 15 hingga 28 Agustus 2026. Beberapa kabupaten juga menetapkan status darurat atau siaga darurat dengan masa berlaku yang disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.
Kebutuhan Pengungsi Masih Mendesak
Di tengah penanganan darurat, kebutuhan masyarakat terdampak masih cukup besar. Sejumlah daerah membutuhkan tenda pengungsi, makanan siap saji, beras, air bersih dan air mineral, obat-obatan, velbed, selimut, tikar, perlengkapan keluarga, genset, alat penerangan, hingga peralatan dapur.
BNPB bersama pemerintah daerah, aparat, tenaga kesehatan, relawan, dan unsur terkait terus melakukan penanganan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga serta memastikan proses evakuasi dan pelayanan kepada masyarakat terdampak berjalan.
Data: BNPB, pembaruan penanganan darurat per 16 Agustus 2026 pukul 21.00 WIB.
