Batam, Owntalk.co.id – Debu beterbangan setiap kali alat berat merobohkan bangunan di kawasan Kampung Alor, Sei Binti, Tanjung Uncang, Batam, Jumat pagi, 17 Juli 2026. Di tengah deru mesin yang terus bekerja, seorang bocah berusia empat tahun tampak berjalan pelan sambil menggenggam sepotong besi kecil di tangannya.
Namanya Rian, namun warga sekitar lebih akrab memanggilnya Skatter.
Rumah Skatter bukan termasuk bangunan yang dibongkar. Namun karena berada tepat di samping lokasi tersebut, pagi itu ia ikut memunguti beberapa potongan besi bersama teman-temannya yang bermain di sekitar area pembongkaran. Potongan-potongan besi itu rencananya akan dijual sebagai barang rongsokan.
Sesekali ia membungkuk untuk mengambil potongan besi yang terlihat di sela-sela puing. Sesekali pula ia menoleh ke arah teman-temannya, lalu tersenyum ketika menemukan potongan besi lain di antara reruntuhan. Bagi orang dewasa, benda-benda itu mungkin hanya sisa material bangunan. Namun di tangan anak-anak itu, semuanya terlihat seperti sebuah penemuan yang menyenangkan.
Di tengah kesibukannya, Skatter sempat berhenti ketika diajak berbincang.
“Mau beli mobil,” jawabnya pelan saat ditanya untuk apa ia mengumpulkan potongan besi itu.
Sejenak, jawaban tersebut terdengar seperti impian besar seorang anak.
Namun beberapa detik kemudian, senyum polos menghiasi wajahnya. Dengan nada yang ringan ia kembali berkata,
“Mobil mainan.”
Jawaban sederhana itu seketika mengubah cara memandang pagi tersebut. Di tengah suara alat berat, debu yang beterbangan, dan bangunan yang satu per satu roboh, seorang anak ternyata hanya sedang memikirkan sebuah mobil mainan.
Dari percakapan singkat pagi itu, Skatter tampak belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada potongan-potongan besi yang ia kumpulkan bersama teman-temannya. Sementara di belakangnya, proses pembongkaran terus berlangsung.
Pemandangan Jumat pagi itu memperlihatkan sisi lain dari sebuah peristiwa yang biasanya dipenuhi berbagai persoalan. Di balik aktivitas pembongkaran, masih ada kepolosan anak-anak yang memandang dunia dengan cara mereka sendiri, sederhana, apa adanya dan penuh rasa ingin tahu.
Kisah Skatter bukan dimaksudkan untuk menormalisasi anak mencari penghasilan ataupun bekerja di usia dini. Sebaliknya, kisah ini merupakan potret sosial yang terekam di lapangan, mengingatkan bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermain, belajar, dan memperoleh perlindungan.
Suara alat berat masih terdengar ketika Skatter kembali berjalan menuju tumpukan puing. Di tangannya tergenggam beberapa potongan besi kecil. Entah berapa rupiah nilainya.
Namun pagi itu, bagi seorang anak berusia empat tahun, benda-benda itu mungkin sudah cukup untuk mendekatkannya pada sebuah impian sederhana: membeli jajanan dan sebuah mobil mainan.
