Dua Legenda Klub Sepak Bola AC Milan Terposana Dengan Suara Angklung

0
182
blank

Dua legenda hidup klub sepak bola AC Milan, Daniele Massaro dan Franco Baressi, terpesona dengan suara alat musik dari bambu asli Indonesia.

Suasana The Studios: Milan Media House yang terletak di lantai satu gedung enam lantai Casa Milan tampak berbeda. Di ruang studio Milan TV seluas sekitar 1.000 meter persegi itu tak tampak presenter cantik Giorgia Tavella yang biasanya selalu bersemangat menemani komentator Mauro Suma saat siaran langsung pertandingan AC Milan, klub sepak bola asal Italia yang bermarkas di Milan, kota pusat mode dunia.

Sebagai gantinya, belasan kru berambut pirang terlihat sibuk, ada yang sedang mengatur pencahayaan lampu, tata letak kamera, dan berbincang-bincang sambil menunjuk ke arah kertas yang dipegang oleh seseorang memakai headphone menutupi kedua telinga. Di sudut lain dari bangunan studio warna merah dan hitam, identik dengan klub yang didirikan Herbert Kilpin pada 16 Desember 1899 itu, berjajar dua set alat musik bambu tradisional asli Indonesia, angklung dan calung.

Satu set berupa angklung solo yang terdiri dari 31 angklung dengan beragam ukuran dan bunyi digantungkan rapi pada sebuah gayor, semacam palang khusus terbuat dari kayu. Angklung jenis ini dimainkan hanya oleh satu orang dengan melakukan gerakan centok dan kurulung agar angklung mengeluarkan bunyi yang diinginkan.

Kurulung adalah teknik membunyikan angklung dengan cara tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkannya ke kiri dan kanan berkali-kali untuk menciptakan suara yang diinginkan. Kalau centok atau sentak adalah teknik membunyikan angklung dengan menarik tabung dasar dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan sehingga angklung akan berbunyi sekali saja dan memberi efek suara stakato.   

Set lainnya berupa calung yang ditempatkan berjajar dan diberi nama calung alunan musik bambu (arumba) alias carumba. Dimainkannya dengan cara dipukul mirip kolintang, alat musik dari Minahasa. Tak jauh dari angklung dan carumba diletakkan gitar dan drum set.

Rupanya hari itu, Kamis (12/5/2022), di markas besar klub berjuluk Rossoneri tersebut sedang ada rekaman lagu-lagu bertema tim Milan untuk keperluan video promosi klub ke seluruh dunia. Ada dua lagu yang dimainkan, Rossoneri dan Milano Siamo Noi. Rekaman ini juga akan diputar di videotron pada gerbang depan Stadion San Siro, kandang Milan, demikian klub ini biasa disapa penggemarnya.    

Angklung dan calung beserta perangkat musik modern pendampingnya bukanlah properti musik milik salah satu klub terkaya di dunia itu. Alat musik tradisional itu dibawa langsung oleh Yayasan Rumah Angklung Indonesia yang mendapat undangan khusus dari manajemen Milan.

Semua berawal dari keprihatinan Arif Sarifuddin selaku pendiri yayasan akan nasib Milan yang mulai terpuruk prestasinya. Maklum saja, klub dengan 500 juta penggemar di seluruh dunia ini adalah pemilik 18 titel scudetto Serie A, kasta tertinggi dalam kompetisi sepak bola di Italia. Rossoneri juga tujuh kali juara Liga Champions, kejuaraan sepak bola antarklub paling bergengsi di Eropa dan juara Piala Dunia FIFA Antarklub pada 2007.

Kebetulan Arif adalah seorang milanisti, sebutan untuk tifosi atau penggemar AC Milan. Bersama sejumlah penggemar angklung di Tangerang Selatan, Banten, yang menjadi pusat yayasan, Arif pun menciptakan Milano Siamo Noi (We Are Milan) dengan aransemen musik angklung dan ditayangkan di kanal Youtube yayasan pada 21 Mei 2021. Itu adalah lagu keduanya setelah sebelumnya pada 2018 ia membuat Inno Milan.

Pria berkacamata itu mendedikasikan lagu tadi sebagai hadiah atas keberhasilan Milan menembus Liga Champions setelah absen selama tujuh tahun. Ternyata, Milano Siamo Noi dengan iringan angklung menarik hati manajemen klub yang berkandang di Stadion San Siro itu. Tepat pada Hari Musik Dunia, 21 Juni 2021, AC Milan me-repost Milano Siamo Noi di akun Youtube mereka.  

Keunikan suara yang dihasilkan dari alunan angklung dipadu musik kontemporer dan lantunan suara merdu Alin Cristelysa Pontoh rupanya mencuri perhatian Direktur Marketing AC Milan, Peter Morgan. Ia tertarik dengan angklung dan mengajak Rumah Angklung Indonesia berkolaborasi. Jadilah pada 10 Mei 2022 Arif dan kawan-kawan terbang ke Negeri Pizza untuk memenuhi undangan pihak Rossoneri.

Arif turut tampil dalam video rekaman memainkan carumba bersama Arny Dulishaputri pada angklung solo. Bersama pemusik lainnya, mereka tampil mengenakan kostum panggung dari kain lurik tradisional bercorak merah dan hitam buatan Apikmen, salah satu usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) batik, dan wastra Indonesia.

“Saya sangat tertarik dengan keunikan angklung, alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Musik Anda, kostum, dan seluruh pertunjukan Anda sangat mengesankan,” kata Morgan seperti dikutip dari siaran pers Kedutaan Besar RI di Roma yang turut menemani Arif dan kawan-kawan. Turut menemani, Direktur Pemasaran dan Digital AC Milan Lambeto Siega, selaku penanggung jawab The Studios.

Morgan pun memberi kejutan dengan menghadirkan dua legenda hidup klub era 1990-an, Daniele Massaro dan Franco Baressi, seusai proses rekaman dilakukan. Keduanya merupakan duta budaya AC Milan dan sempat menjajal cara bermain angklung dan carumba. Massaro dan Baressi turut membubuhkan tanda tangan mereka pada angklung dan jersey asli klub untuk milanisti di Indonesia.

“Kami merasakan energi yang luar biasa melalui musik kalian. Terima kasih untuk semangatnya terhadap AC Milan,” ucap Baressi.

Video penampilan musik angklung dari Rumah Angklung Indonesia telah ditayangkan pihak Milan di akun Youtube mereka pada 13 Mei 2022 dan telah dilihat sebanyak 67 ribu kali. Duta Besar RI untuk Italia Muhammad Prakosa mendukung kerja keras dan kontribusi positif seluruh seniman di tanah air seperti yang ditunjukkan Rumah Angklung Indonesia. Khususnya untuk meningkatkan promosi budaya dan kesenian tradisional Indonesia untuk semakin mendunia.

“Diplomasi seni dan budaya, dalam hal ini pertunjukan angklung di Casa Milan, telah semakin memperkenalkan Indonesia melalui jaringan penggemar sepak bola di seluruh dunia serta meningkatkan citra positif Indonesia di dunia,” ucap dubes.

Menurut Arny, selaku Presiden Rumah Angklung Indonesia, kepercayaan yang diberikan pihak AC Milan merupakan bentuk apresiasi masyarakat internasional terhadap eksistensi angklung sebagai budaya Indonesia. Terlebih angklung telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dunia yang telah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB, UNESCO pada 18 November 2010.