Perang Topat Pulau Lombok, Inspirasi Kebhinekaan Beragama

Kerbau dipilih sebagai bentuk penghormatan umat kedua agama karena tidak mengonsumsi hewan babi dan sapi. Kemudian ada arak-arakan ribuan warga Sasak Wetu Telu dan Hindu sambil membawa puluhan wadah yang dijunjung di atas kepala. Wadah atau rombong berisi sesaji, kebon odek (nampan besar berisi aneka hasil bumi disusun rapi), dan ribuan topat.

Semua wadah dinaungi payung agung warna merah, kuning, dan putih. Mereka diiringi suara gendang beleq (kendang besar), tawaq-tawaq (gong), ceng-cengpareret (terompet kayu), dan cungklik. Semua alat musik tadi dimainkan oleh sebuah orkes sambil berjalan mengikuti arakan. Laki-laki dan perempuan, tua-muda, anak-anak dan dewasa ikut di dalam arak-arakan, dipimpin para pemangku adat Sasak dan Hindu. Tak sedikit pula turis asing ikut arak-arakan.

Usai upacara, perang topat pun dimulai. Pemimpin daerah, biasanya Bupati Lombok Barat melakukan lemparan ke halaman tengah pura. Ini menjadi semacam kode dimulainya “perang”. Ribuan topat dalam wadah sudah lebih dulu dibagikan kepada peserta “perang”. Warga Sasak Muslim yang berdiri di halaman bangunan Kemaliq akan melempar ketupat sekuat tenaga ke kerumunan warga Hindu di pelataran Pura Gaduh.

Wajah-wajah ceria, ditingkahi sorakan penonton membuat perang ini lebih seperti festival lempar ketupat. Atau mirip La Tomatina, sebuah festival perang tomat di Kota Bunol, Valencia, Spanyol, yang sangat terkenal. Perang saling lempar ketupat berlangsung selama 30 menit dan diakhiri dengan suara peluit dari tokoh adat kedua agama.

“Perang topat ini sudah menjadi agenda budaya tahunan Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini merupakan atraksi wisata yang menarik bagi turis, baik domestik maupun mancanegara,” kata Bupati Fauzan Khalid, seperti dikutip dari situs resmi Pemkab Lombok Barat.

Sebagian peserta “perang” memilih menyimpan topat hasil lemparan dari pihak “musuh” untuk dibawa pulang. Biasanya, topat-topat itu akan mereka tebar di lahan persawahan, kebun, digantung di pohon-pohon buah, atau disimpan di tempat mereka berdagang. Menurut pemuka Hindu Pura Lingsar Jero Mangku Putra, topat-topat itu diyakini warga desa membawa berkah karena berisi beras sebagai hasil bumi dari Sang Pencipta. 

Sejarah Pura Lingsar

Keberadaan Pura Lingsar tak lepas dari pengaruh budaya Hindu Bali di tanah Lombok. Agama Hindu dibawa masuk saat Kerajaan Karangasem memperluas jangkauan kekuasaannya ke seberang Bali, yakni Lombok. Ketika itu di Pulau Lombok hanya ada agama Islam. Anak Agung Ngurah Made Karang menjadi raja pertama dari percabangan Kerajaan Karangasem di Lombok yang memerintah pada 1720. Demikian seperti dikutip dari penjelasan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam situs resmi mereka.  

Pura Lingsar mulai dibangun pada 1759 masa kekuasaan Raja Anak Agung Ngurah. Bangunan pura juga memiliki keterikatan dengan warga dari kedua agama tadi. Bagi umat Hindu di Lombok, Pura Gaduh menjadi tempat paling disucikan. Pada hari-hari suci tertentu bagi umat Hindu Bali di Lombok, mereka selalu memadati Pura Gaduh untuk melakukan persembahyangan.

Pura Gaduh ditandai oleh bangunan pagar tembok penyengker setinggi 351 sentimeter dengan ketebalan 85 cm. Ada sejumlah bangunan penunjang di dalamnya seperti Bale Banten, Penyungsungan Betara Gunung Agung, Penyungsungan Betara Alit Sakti, Bale Pararianan, dan Bale Pawedaan.

Halaman selanjutnya…

Exit mobile version