Jared datang langsung ke rumah Josua untuk membeli batu meteor setelah mengetahui informasi dari pemberitaan media massa.
Pada awalnya, Jared menawar batu meteor itu seharga Rp200 juta. Kemudian Josua minta supaya dihargai lebih tinggi, namun Jared hanya bersedia menambah Rp14 juta yang bisa dipergunakan untuk memperbaiki atap rumah Josua yang rusak teretimpa meteorit.
Setelah pertimbangan yang panjang, akhirnya Josua sepakat dengan penambahan Rp14 juta yang ditawarkan Jared.
Sebagaimana dilaporkan surat kabar The Sun, Jared Collins disebut sebagai pakar batu luar angkasa yang bermukim di Bali.
Batu meteor tersebut diklasifikasikan sebagai CM 1/2 Kondrit karbon, jenis yang sangat langka dan bernilai fantastis di pasaran.
Setelah membeli batu meteor dari Josua, tenyata Jared mengirimkannya ke AS.
Batu itu dilaporkan dibeli Jay Piatek, seorang pria bergelar doktor dan kolektor batu meteor di Pusat Kajian Meteor, Arizona State University.
Pecahan batu tersebut kemudian dijual kembali oleh seorang kolektor kedua melalui situs jual-beli eBay seharga 757 Poundsterling (Rp14,1 juta) per gram.
Artinya, harga batu seberat 1.800 gram yang dijual Josua bisa mencapai hampir 1,4 juta Poundsterling atau setara dengan Rp26 miliar.
Bongkahan Meteorit itu tidak semua dijual
Dilansir dari bbc.com, Josua menyebut bobot batu meteor yang jatuh menimpa atap rumahnya mencapai 2,2 kilogram, sedangkan yang dia klaim dijual ke Jared hanya 1.800 gram. Sisanya, menurut Josua, telah dibagi-bagi ke sanak keluarga.
Joshua berjanji tidak akan menjual sisa batu meteor yang dimilikinya itu, meski harga di pasar internasional cukup mahal.
Dia mengatakan, batu seberat lima gram tersebut akan disimpannya sebagai kenang-kenangan.
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengatakan setiap hari meteorit dengan berbagai ukuran berpapasan dengan bumi dan akhirnya masuk ke atmosfer bumi.
Meski demikian, Thomas mengimbau agar masyarakat tidak khawatir, karena batu meteorit tidak mengandung radiasi, sama seperti jenis bebatuan di bumi. ***
Sumber Referensi : bbc.com | nationalgeographic.com

