banner 728x90
Batam  

Bakau Panaran Diratakan: Nama Pandi dan Ayong Mencuat di Balik Proyek

Batam, Owntalk.co.id – Aktivitas pemotongan bukit dan penimbunan hutan mangrove di belakang Kavling Panaran, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, terus menjadi sorotan masyarakat. Proyek yang berlangsung di kawasan pesisir tersebut diduga telah meratakan sebagian kawasan bakau yang selama ini menjadi penyangga ekosistem laut dan sumber penghidupan nelayan.

Dari pantauan di lapangan, aktivitas cut and fill terlihat berlangsung cukup intens. Beberapa unit alat berat tampak memotong tanah dari area perbukitan di sekitar lokasi. Tanah hasil pengerukan tersebut kemudian diangkut menggunakan dump truck dan ditimbun ke kawasan hutan mangrove di pesisir belakang Kavling Panaran.

Namun yang menjadi perhatian, di lokasi proyek tidak ditemukan papan plang proyek maupun informasi perusahaan yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. Ketiadaan informasi resmi itu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait legalitas aktivitas yang berlangsung di kawasan mangrove tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber di lapangan, aktivitas penimbunan mangrove tersebut disebut-sebut berkaitan dengan rencana pembangunan kawasan industri. Sementara itu, lahan perbukitan yang dipotong diduga akan dikembangkan menjadi kawasan perumahan.

Dalam perkembangan informasi yang beredar di lapangan, muncul pula dua nama yang disebut-sebut berkaitan dengan proyek tersebut, yakni Pandi dan Ayong. Sumber yang enggan disebutkan identitasnya menyebut Ayong sebagai sosok yang diduga berada di balik proyek penimbunan mangrove. Sementara Pandi disebut-sebut berkaitan dengan aktivitas pemotongan bukit yang tanahnya digunakan sebagai material timbunan.

Meski demikian, informasi mengenai keterlibatan kedua nama tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak yang bersangkutan.

Aktivitas penimbunan mangrove ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat pesisir, terutama para nelayan yang menggantungkan hidup dari ekosistem bakau. Hutan mangrove memiliki peran penting sebagai habitat berbagai biota laut, tempat berkembang biaknya ikan dan udang, sekaligus sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari abrasi.

Sejumlah nelayan mengaku mulai merasakan dampak dari aktivitas tersebut. Air di sekitar kawasan bakau menjadi semakin keruh dan berlumpur akibat tanah timbunan yang masuk ke alur sungai. Kondisi ini membuat hasil tangkapan ikan dan udang semakin berkurang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *