Batam, Owntalk.co.id – Meninggalnya satu pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Kota Batam menjadi polemik.
Pasalnya, keluarga pasien merasa kecewa dan melakukan protes terhadap pelayanan yang dianggap tidak sesuai standar di rumah sakit tersebut.
Informasi yang diterima Owntalk.co.id menyebutkan bahwa pasien yang meninggal dunia bernama Warnilis (68), masuk RSUD Embung Fatimah pada tanggal 22 Juni 2024 dan meninggal dunia pada tanggal 24 Juni 2024.
Awalnya, pasien tersebut datang ke rumah sakit dengan diagnosis mengidap gejala kekurangan darah merah dan seharusnya menjalani transfusi darah sesuai petunjuk dokter dari sebuah klinik sebelumnya. Namun, di RSUD, pasien justru didiagnosis mengalami penyumbatan jantung.
Setelah itu, kata Novi, ia disarankan untuk memasang 1 ring jantung seharga kurang lebih 50 jutaan.
“Di klinik sebelumnya, Ibu saya mengalami kekurangan darah merah sehingga harus menjalani transfusi darah. Namun, begitu tiba di sini, malah diindikasikan mengalami penyumbatan jantung tanpa pemeriksaan oleh dokter spesialis jantung terlebih dahulu. Hal ini saja sudah dianggap mengada-ada,” kata Novi (40), anak pasien.
“Kami mempertimbangkan untuk mengikuti saran dari dokter umum dan perawat, tapi hati masih ragu karena ibu tidak punya riwayat penyakit jantung, ia hanya membutuhkan transfusi darah,” imbuh Novi.
Novi menjelaskan bahwa setelah berembuk dengan keluarga lainnya, mereka sepakat untuk memasang 1 ring jantung. Namun, secara mengejutkan, beberapa saat kemudian, perawat kembali menyarankan bahwa kemungkinan bukan hanya 1 ring, melainkan bisa menjadi 2 sampai 3 ring jantung.
“Hal itu membuat saya semakin curiga, mengapa gejala penyakit ibu saya seakan diarahkan ke jantung. Apakah rumah sakit ini berusaha menjual ring jantung? Saya meminta untuk bertemu dengan dokter jantung minta penjelasan, namun perawat menyatakan bahwa dokter tidak ada. Alasannya, dokter jantung tidak akan datang hanya untuk konsultasi. Namun, jika ibu menandatangani surat persetujuan untuk pemasangan ring jantung, dokter pasti datang,” kata Novi menirukan ucapan perawat.
Novi mengaku, setelah perdebatan tersebut, ia bersama keluarga memutuskan untuk membatalkan rencana pasang ring jantung sebelum bertemu dengan dokter jantung. Sementara perawatan untuk pasien (ibunya) terus dilanjutkan dengan diagnosis mengalami penyumbatan jantung.
Pasien kemudian mendapatkan suntikan dibagikan perut untuk mengencerkan darah (perut pasien akhirnya menjadi biru) dan diberikan Morfin beberapa kali dengan alasan untuk meredakan rasa sakit/nyeri (pasien akhirnya menjadi linglung).
“Anehnya, ketika saya tanya, ibu menjawab bahwa ia tidak merasakan nyeri apapun, kondisinya biasa saja. Loh, kenapa diberi morfin jika tidak merasakan nyeri. Ternyata itulah yang akhirnya menyebabkan pasien menjadi linglung. Terkadang, pasien mengalami halusinasi, merasa seperti berada di rumah atau di kampung. Perilaku aneh ini sangat membuat kami bingung. Kami merasa hal ini bisa dikategorikan sebagai malpraktik, karena pihak rumah sakit seharusnya mengetahui bahwa keluhan kami bukan terkait dengan jantung,” ungkap Novi dengan nada kesal.
“Bahkan setelah pasien meninggal, kami datang ke rumah sakit lagi, namun tetap tidak berhasil bertemu dengan dokter jantung tersebut,” kata Novi mengeluhkan susahnya bertemu dengan dokter jantung.
Sementara itu, Humas Rumah Sakit Embung Fatimah kota Batam, Ellin Sumarni, saat dihubungi Owntalk.co.id, membenarkan bahwa memang ada keluarga pasien yang mempertanyakan pelayanan RSUD Embung Fatimah.
“Kami telah mengadakan pertemuan dengan keluarga pasien dan menjelaskan bahwa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit, namun keluarga pasien masih merasa tidak puas,” kata Ellin.
Ellin menjelaskan, bahwa pihak rumah sakit juga telah mengarahkan keluarga pasien ke bagian Poli Jantung untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci, jika memang perlu bertemu dengan dokter spesialis jantung.
“Kami juga mengarahkan keluarga pasien ke Poliklinik Jantung jika ingin bertemu dengan dokter jantung dan memerlukan penjelasan lebih rinci,” katanya.
Ellin juga menginformasikan bahwa saat ini dokter spesialis jantung di RSUD Embung Fatimah merupakan seorang konsultan, sehingga jadwalnya padat. Hal itu menjadi jawaban kenapa dokter jantung susah ditemui.