Sedangkan bagi Sasak Wetu Telu, mereka menghormati bangunan Kemaliq, di mana pada waktu-waktu tertentu dipakai untuk upacara adat. Dalam bahasa Sasak, Kemaliq berasal dari kata maliq yang artinya keramat atau suci. Di kompleks berpagar tembok bata setinggi 150 sentimeter ini terdapat beberapa bangunan penting.
Misalnya, Bethara Lingsir, tempat masyarakat Sasak berdoa untuk mengharapkan berkah. Lalu ada Bale Sekepat, tempat tokoh agama Sasak memimpin upacara adat dan Bale Pesanekan, tempat beristirahat bagi masyarakat yang akan beribadah di Pura Lingsar dan Kemaliq.
Di Kemaliq ini pula ada Telaga Ageng atau Aik Mual, sebuah kolam besar persegi panjang berukuran panjang 468 cm, lebar 350 cm dan kedalaman sekitar 155 cm. Isi kolam bersumber dari mata air berdebit sangat besar yang berada di dasar kolam. Airnya sangat jernih sehingga menampakkan dasar kolam berupa batu-batu besar. Limpahan air sepanjang tahun dimanfaatkan untuk mengairi kebun dan persawahan penduduk desa.
Di tempat ini pula nama desa dan kawasan Lingsar bermula. Menurut kisah rakyat, dahulu kala mereka mengalami kekeringan dan menyebabkan kebun dan sawah tak lagi menghasilkan. Seorang ulama setempat bergelar Datuk Abdul Malik dan diyakini sebagai keturunan wali, membantu mencari sejumlah titik sumber air bagi warga.
Pada suatu lokasi, Raden Mas Sumilir, demikian nama asli ulama tersebut, berhasil menancapkan tongkatnya ke tanah. Saat tongkat dicabut, tiba-tiba muncul air menyembur dengan sangat derasnya dari dalam tanah. Warga setempat menyebutnya sebagai ai mual atau air yang menyembur deras.
Sementara bagi pihak kerajaan, ai mual mereka sebut sebagai lingsar. Ini diambil dari kata ling atau wahyu. Lalu kata sar diartikan sebagai sah atau jelas. Sehingga lingsar dapat diterjemahkan sebagai wahyu yang jelas. Itu sebabnya daerah ini dikenal subur dan warganya selalu menikmati panen hasil bumi sepanjang tahun. Karena mereka tidak kesulitan mendapatkan air dari sumber Kemaliq di Pura Lingsar.

