banner 728x90

Perang Topat Pulau Lombok, Inspirasi Kebhinekaan Beragama

Pura Lingsar berdiri di sebuah desa berpenduduk 4.612 jiwa, di mana 70 persennya menganut Islam dan 25 persennya Hindu serta sisanya umat beragama lain. Pada lambang pemerintahan desa turut dicantumkan gambar pura dan masjid sebagai simbol dua agama mayoritas di Lingsar. Mayoritas penduduk desa berasal dari Sasak Muslim. Dalam sistem kekerabatannya terdapat warga Sasak Muslim penganut Islam Wetu Lima atau lima waktu dan Islam Wetu Telu atau tiga waktu. 

Perang topat diadakan saat perayaan Pujawali pada purnamaning sasih keene(enam) kalender Bali atau setiap tanggal 15 purnama sasi kepitu (tujuh) dalam warige (penanggalan) suku Sasak. Pada kalender Masehi, kegiatan ini biasanya jatuh di bulan Desember atau pertengahan November. Tahun ini, perang topat diadakan pada 19 November 2021.

Kerukunan Beragama

Menurut Suparman, pemangku Sasak di Desa Lingsar seperti dikatakannya dalam film dokumenter “Perang Topat”, acara ini dilakukan pada sore hari. Yakni saat raraq atau berjatuhannya kembang pohon waru, biasanya selepas waktu salat Asar bagi umat Islam. Pohon-pohon waru ditanam warga di lingkungan desa dan pura. Budayawan I Wayan Sutama di dalam penelitian mengenai perang topat mengatakan, tradisi ini mencerminkan kerukunan antarumat beragama di Lombok, utamanya antara penganut Hindu Bali dan suku Sasak yang beragama Islam.

“Ini sebagai media dalam menjaga dan mewujudkan nilai-nilai religius dan norma-norma sosial masyarakat. Budaya agraris yang menjadi roh bagi atraksi budaya masyarakat menguatkan makna keragaman dan  kebersamaan di tengah pluralitas,” tulis Sutama.

Jumlah ketupat sebagai alat “perang” bisa mencapai ribuan buah dan saat digunakan sebagai wadah perang, semua dalam kondisi sudah matang. Sebelum dimulai perang topat, ada serangkaian upacara adat diikuti ratusan warga desa. Misalnya nampah kaoq, yaitu mengarak seekor kerbau jantan mengelilingi pura sebelum disembelih.

Halaman selanjutnya…