banner 728x90

Perang Topat Pulau Lombok, Inspirasi Kebhinekaan Beragama

Lombok, Owntalk.co.id – Perang biasanya identik dengan kebencian, amarah, pertumpahan darah, dan bahkan berakhir dengan kematian. Siapa pun tidak suka dengan perang, karena akan menyebabkan kerugian. Bagi warga Desa Lingsar di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, perang justru mereka ubah maknanya menjadi sebuah pesta nan menyenangkan.

Tidak akan ada air mata menetes. Tidak ada pula tubuh terluka, apalagi hingga mengorbankan nyawa. Sebaliknya, mereka justru akan bersuka cita, saling melempar canda tawa, bersorak sorai di “perang” yang diadakan setahun sekali. Senjata utama perang ala warga Lingsar adalah ketupat atau topat dalam bahasa Sasak, suku asli Pulau Seribu Masjid itu.

Ketupat untuk kebutuhan “perang” dibuat berbeda. Makanan berbahan beras dilapisi daun kelapa ini umumnya berukuran dua kepalan tangan orang dewasa dan beratnya mencapai 150 gram. Tetapi sebagai “amunisi perang”, ketupat buatan ibu-ibu Lingsar itu hanya seukuran kepalan anak-anak. Kira-kira seberat 30 gram saja.

Lokasi perang topat ini ada di Pura Lingsar, sebuah tempat peribadatan umat Hindu paling besar seantero Lombok. Pura membentang dari barat ke timur seluas 26 hektare, mengikuti posisi Gunung Agung dan Rinjani, dua puncak tertinggi di Bali serta Lombok. Pura terdiri dari dua bangunan utama, yakni Pura Gaduh di sisi selatan dan Kemaliq di utara.

Halaman selanjutnya…